Harga Cabai Rawit Rp 80.000 Per Kg

Kompas.com - 24/12/2010, 04:17 WIB

KUDUS, KOMPAS - Harga cabai rawit merah super di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, terus naik dan pada Kamis (23/12) menembus Rp 75.000-Rp 80.000 per kilogram. Sementara di Kabupaten Bandung dan Bandung Barat, Jawa Barat, produksi cabai merah dua pekan ini anjlok hingga 30 persen.

Terus naiknya harga membuat pedagang di Kudus tidak berani menyimpan cabai terlalu banyak karena pembeli jarang membeli dalam jumlah banyak pula.

Marfuah (25), pedagang Pasar Kliwon, Kudus, mengatakan, harga cabai rawit merah semula Rp 40.000 per kilogram (kg), tetapi sekarang Rp 80.000 per kg. Lonjakan terjadi secara bertahap sejak dua pekan lalu. Penyebabnya adalah minimnya pasokan cabai rawit merah karena petani di daerah-daerah penghasil cabai sebagian besar gagal panen akibat cuaca buruk.

”Sejak sepekan lalu saya mengurangi pembelian cabai rawit merah dari 5 kilogram per hari menjadi 2-3 kilogram per hari. Hal itu saya lakukan karena pembeli sedikit,” kata Marfuah.

Yuliah (57), pedagang Pasar Bitingan, Kudus, menambahkan, harga cabai merah biasa juga naik berlipat dari Rp 20.000 menjadi Rp 50.000-Rp 60.000 per kg.

Minimnya pasokan cabai ke pedagang, menurut Nur Sudiyono, petani Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, Kudus, karena panen tidak bagus. Hujan yang terus terjadi menyebabkan tanaman cabai terserang penyakit.

Pengaruh cuaca buruk

Produksi cabai merah di Bandung dan Bandung Barat juga anjlok 30 persen akibat kondisi iklim ekstrem dengan curah hujan terlalu tinggi dua pekan ini. Kondisi itu menyebabkan pasokan cabai kepada pedagang di Kota Bandung menyusut saat permintaan masyarakat sedang tinggi.

Di Lembang, Pangalengan, dan Ciwidey, sebagian lahan sayuran, termasuk cabai, gagal panen akibat curah hujan terlalu tinggi. ”Dengan umur tanaman rata-rata dua minggu, yang dibutuhkan adalah banyak sinar matahari. Ini yang membuat tanaman cabai layu dan gugur,” ujar Sutarna (38), petani cabai di Desa Alam Endah, Ciwidey.

Kebun cabai milik Sutarna, misalnya, pada kondisi normal mampu menghasilkan cabai merah keriting berkisar 10 ton per hektar. tetapi kini panenannya turun menjadi 7 ton per hektar.

Petani cabai lainnya di Desa Citere, Pangalengan, Ajat Hermawan (61), mengaku hanya mampu memanen cabai merah sebanyak 3 ton dari setengah hektar lahannya, padahal biasanya biasanya 5 ton.

Seperti di Kudus, berkurangnya produksi juga mengakibatkan terus naiknya harga cabai di Kota Bandung. Di Pasar Kosambi, misalnya, harga cabai merah keriting menjadi Rp 60.000 per kg. Begitu pula cabai rawit hijau, saat ini harganya Rp 50.000 per kg, padahal pekan lalu Rp 20.000.

Menanggapi lonjakan harga cabai, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan meminta masyarakat berhenti dulu memakan cabai. ”Kalau harga cabai naik, hentikan dulu makan cabai. Apalagi cabai kan tak berakibat pada kelaparan,” kata Gubernur. (hen/gre)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau