Tembakau Susut 170 Hektar

Kompas.com - 24/12/2010, 05:45 WIB

BANTUL, KOMPAS - Cuaca ekstrem menurunkan minat petani menanam tembakau secara drastis. Sepanjang tahun 2010, areal tanam tembakau di Bantul berkurang 170 hektar. Kondisi tersebut diperkirakan masih akan berlangsung hingga tahun depan.

”Total areal tanam kami biasanya 570 hektar per tahun, namun tahun ini turun menjadi 400 hektar, terutama tembakau lokal jenis siluk. Tembakau putih jenis virginia relatif stabil,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul Edy Suharyanto, Kamis (23/12).

Banyaknya petani yang beralih ke komoditas lain disebabkan tingginya curah hujan dalam waktu lama. Sementara tembakau termasuk tidak tahan air.

”Selain ganti komoditas, ada yang membiarkan (tak mengurus) lahan setelah tembakaunya rusak karena hujan,” katanya.

Menurut Edy, pada kondisi iklim dan cuaca tak menentu, harga tembakau sangat fluktuatif, yang memengaruhi mental para petani. Petani harus bisa mengelola kondisi itu dengan baik.

”Kalau bisa menyiasati, kondisi itu bisa menjadi peluang memaksimalkan keuntungan, yakni bagaimana cara memproduksi tembakau di tengah cuaca tak menentu. Kalau petani bisa, hasilnya akan sangat menguntungkan,” paparnya.

Siasati iklim

Salah satu cara menyiasati cuaca tak menentu adalah menggunakan benih tembakau bermutu tinggi. Tahun ini, Pemerintah Kabupaten Bantul menggalakkan penanaman benih tembakau jenis siluk yang hanya ada di Bantul. Sayang, justru banyak petani mendatangkan benih tembakau dari luar daerah. Padahal, kualitas siluk lebih bagus dengan rasa dan aroma khas.

”Selama ini, tembakau siluk dikenal sebagai tembakau bumbu. Banyak dibeli petani tembakau Temanggung,” katanya.

Tembakau jenis siluk banyak ditanam di Desa Selopamioro, Imogiri. Ada sekitar 4.200 petani di desa itu yang menanam tembakau di lahan 350 hektar.

Namun, petani masih kesulitan menjual dan hanya memasarkannya di pasar-pasar tradisional. Pemasaran mengandalkan pedagang lokal yang meneruskan ke pasar-pasar tradisional.

Meskipun kesulitan pembeli, para petani setia menanam tembakau. Tradisi menanam tembakau berlangsung turun-temurun. Menurut Prapto Wiharjo (50), petani di Dusun Kalidadap II, Selopamioro, dia bertahan dengan kebun tembakau karena nilai ekonominya tinggi. Dari lahan seluas 500 meter persegi, dia memperoleh penghasilan bersih Rp 2 juta setiap kali panen (bisanya satu tahun sekali panen).

(ENY)

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau