Natal, Saat Berbagi Kasih

Kompas.com - 24/12/2010, 09:16 WIB

Bulan Desember, yang terbayang adalah perayaan Natal. Tak heran sejak awal Desember mal-mal berlomba menghias diri dengan berbagai pernak-pernik Natal. Bahkan, ada mal yang memasang pohon Natal besar dan tinggi, lengkap dengan bola-bola lampu hiasan yang meriah.

Penjual berbagai macam produk di mal juga enggak mau kalah heboh. Mereka yang menjual pakaian, sepatu, produk pangan, juga menggelar diskon. Judulnya macam-macam: ada sale, cuci gudang, midnight sale, bazar Natal... wuaaah macam-macam.

Kalo enggak kuat ”iman”, kantung bisa jebol karena isinya terkuras habis membeli segala sesuatu yang mungkin sebenarnya enggak terlalu kita butuhin. Contohnya baju atau sepatu. Kadang kita terserang ”panik” begitu tahu ada diskon 70 persen, dan langsung beli baju dan sepatu itu tanpa mikir panjang lagi. Padahal, kalo kita mau mikir panjang, masih banyak baju dan sepatu yang layak kita pake untuk merayakan Natal.

Tapi biasalah, kita umumnya ”gelap mata” atau ikut-ikutan teman belanja ini-itu. Apalagi ada semangat aji mumpung. Mumpung diskon besar, mumpung mau merayakan Natal, mumpung dapat uang saku lebih gede karena menjelang Natal, hmm... masih ada banyak mumpung-mumpung yang lain.

Kita jadi larut dalam kehebohan dan ”sukacita” menyambut Natal. Kita sibuk berbelanja, akhirnya lupa apa sebenarnya makna Natal itu sendiri. Ya, kita tahu Natal adalah hari kelahiran Yesus. Mereka yang menganut Kristen atau Katolik selalu merayakan hari besar ini setiap 25 Desember. Tapi, pernahkah kamu merenungkan apa arti Natal? Apa arti kedatangan Yesus di bumi ini?

Kegiatan Natal

Buat kamu yang merayakan Natal, Natal adalah hari istimewa. Ada berbagai kegiatan yang biasanya kamu lakukan. Mulai dari aktivitas di sekolah untuk menyambut Natal, beribadah bersama di sekolah atau di gereja, kumpul-kumpul dengan keluarga, sampai ada juga lho berpesta pora merayakan Natal.

Klara Fiorent, siswa kelas XII SMA Strada St Thomas Aquino Tangerang punya kebiasaan ke gereja bersama keluarga tanggal 24 Desember malam menjelang tengah malam. Misa malam Natal memang biasanya lebih khusyuk, apalagi diiringi lagu ”Silent Night” yang liriknya bertutur tentang kelahiran Yesus di kandang domba di malam sunyi.

Pada 25 Desember Klara bersama keluarga intinya akan berkunjung ke rumah keluarga besar tempat neneknya berada. ”Kami kumpul-kumpul, makan-makan, buka parcel yang isinya toples berisi kue-kue Natal. Dulu waktu kecil, mama saya suka memberi kado yang ditaruh di kolong ranjang. Sekarang sih enggak lagi,” kata Klara.

Soal belanja Natal, menurut Klara, dia enggak belanja berlebihan. ”Paling beli soft drink, baju baru juga enggak selalu beli. Baju lama pun kalo memang layak dipake, kenapa enggak?” kata Klara.

Menurutnya, pesta merayakan Natal sih boleh-boleh saja, asal tidak berlebihan. ”Jangan sampai kita melupakan hal-hal rohani terkait Natal itu sendiri dengan larut dalam pesta duniawi,” ucap Klara.

Kalo Callistasia Anggun Wijaya, siswa SMAK Ora Et Labora BSD Tangerang punya cerita yang lain. Tanggal 14 Desember 2010 lalu ia sudah merayakan Natal di sekolahnya. Acaranya menyanyikan lagu pujian untuk Tuhan, khotbah pendeta, dan drama Natal. ”Dulu ada pesta kelas, tukar kado antarteman, dan ada juga lomba menghias kelas,” katanya.

Kegiatan di keluarganya, 10 hari sebelum Natal, Callista sudah memasang pohon Natal di rumahnya. ”Tahun ini, kami beli lagi pohon Natal baru karena adikku yang paling kecil minta pohon Natal. Dia ikutan menghias pohon Natal,” kata Callista.

Natal kali ini Callista berlibur ke villa keluarga di Puncak, Jawa Barat. ”Kami cuma bikin barbeque. Enggak pernah bikin pesta yang mewah. Aku malah bingung kalo ada pesta Natal yang mewah, ada yang belanja macam-macam. Kenapa harus boros gitu, ya? Pesan Natal itu kan kesederhanaan. Yesus lahir di tempat sederhana. Jadi, kalo kita belanja gila-gilaan, itu malah bertentangan dengan makna Natal itu sendiri,” kata Callista.

Makna Natal

Setelah membaca pendapat dua teman MuDAers: Klara dan Callista di atas, tentu kalian yang merayakan Natal bisa turut memahami makna Natal, yaitu kesederhanaan.

Tak perlulah kita ”larut” dalam gempita diskon, sale, obral atau segala iming-iming lain yang digelar di mal-mal dan berbagai pertokoan. Tak perlulah kita memaksa minta uang dalam jumlah lebih besar kepada orangtua kita demi memuaskan nafsu berbelanja.

Yang harus dilakukan justru kita merayakan Natal dalam kesederhanaan dengan apa adanya yang kita miliki. Bahkan, kalo perlu, kita berikan apa yang kita miliki untuk sesama yang membutuhkan, seperti yang dilakukan teman-teman kalian dari berbagai sekolah yang melakukan aksi Natal.

Mereka menabung atau menyisihkan uang jajan mereka, mengumpulkannya sedikit demi sedikit, dan kemudian mewujudkan ”pesta Natal” sederhana di panti-panti asuhan atau membantu membiayai sekolah teman-teman yang kurang mampu.

Itulah makna Natal yang sebenarnya. Sederhana dan berbagi kasih untuk sesama yang kurang beruntung agar mereka pun merasakan damai Natal.

MuDAers, Selamat Natal!! (LOK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau