P
Kalo enggak kuat ”iman”, kantung bisa jebol karena isinya terkuras habis membeli segala sesuatu yang mungkin sebenarnya enggak terlalu kita butuhin. Contohnya baju atau sepatu. Kadang kita terserang ”panik” begitu tahu ada diskon 70 persen, dan langsung beli baju dan sepatu itu tanpa mikir panjang lagi. Padahal, kalo kita mau mikir panjang, masih banyak baju dan sepatu yang layak kita pake untuk merayakan Natal.
Tapi biasalah, kita umumnya ”gelap mata” atau ikut-ikutan teman belanja ini-itu. Apalagi ada semangat aji mumpung. Mumpung diskon besar, mumpung mau merayakan Natal, mumpung dapat uang saku lebih gede karena menjelang Natal, hmm... masih ada banyak mumpung-mumpung yang lain.
Kita jadi larut dalam kehebohan dan ”sukacita” menyambut Natal. Kita sibuk berbelanja, akhirnya lupa apa sebenarnya makna Natal itu sendiri. Ya, kita tahu Natal adalah hari kelahiran Yesus. Mereka yang menganut Kristen atau Katolik selalu merayakan hari besar ini setiap 25 Desember. Tapi, pernahkah kamu merenungkan apa arti Natal? Apa arti kedatangan Yesus di bumi ini?
Buat kamu yang merayakan Natal, Natal adalah hari istimewa. Ada berbagai kegiatan yang biasanya kamu lakukan. Mulai dari aktivitas di sekolah untuk menyambut Natal, beribadah bersama di sekolah atau di gereja, kumpul-kumpul dengan keluarga, sampai ada juga lho berpesta pora merayakan Natal.
Klara Fiorent, siswa kelas XII SMA Strada St Thomas Aquino Tangerang punya kebiasaan ke gereja bersama keluarga tanggal 24 Desember malam menjelang tengah malam. Misa malam Natal memang biasanya lebih khusyuk, apalagi diiringi lagu ”Silent Night” yang liriknya bertutur tentang kelahiran Yesus di kandang domba di malam sunyi.
Pada 25 Desember Klara bersama keluarga intinya akan berkunjung ke rumah keluarga besar tempat neneknya berada. ”Kami kumpul-kumpul, makan-makan, buka
Soal belanja Natal, menurut Klara, dia enggak belanja berlebihan. ”Paling beli
Menurutnya, pesta merayakan Natal sih boleh-boleh saja, asal tidak berlebihan. ”Jangan sampai kita melupakan hal-hal rohani terkait Natal itu sendiri dengan larut dalam pesta duniawi,” ucap Klara.
Kalo Callistasia Anggun Wijaya, siswa SMAK Ora Et Labora BSD Tangerang punya cerita yang lain. Tanggal 14 Desember 2010 lalu ia sudah merayakan Natal di sekolahnya. Acaranya menyanyikan lagu pujian untuk Tuhan, khotbah pendeta, dan drama Natal. ”Dulu ada pesta kelas, tukar kado antarteman, dan ada juga lomba menghias kelas,” katanya.
Kegiatan di keluarganya, 10 hari sebelum Natal, Callista sudah memasang pohon Natal di rumahnya. ”Tahun ini, kami beli lagi pohon Natal baru karena adikku yang paling kecil minta pohon Natal. Dia ikutan menghias pohon Natal,” kata Callista.
Natal kali ini Callista berlibur ke villa keluarga di Puncak, Jawa Barat. ”Kami cuma bikin
Setelah membaca pendapat dua teman MuDAers: Klara dan Callista di atas, tentu kalian yang merayakan Natal bisa turut memahami makna Natal, yaitu kesederhanaan.
Tak perlulah kita ”larut” dalam gempita diskon,
Yang harus dilakukan justru kita merayakan Natal dalam kesederhanaan dengan apa adanya yang kita miliki. Bahkan, kalo perlu, kita berikan apa yang kita miliki untuk sesama yang membutuhkan, seperti yang dilakukan teman-teman kalian dari berbagai sekolah yang melakukan aksi Natal.
Mereka menabung atau menyisihkan uang jajan mereka, mengumpulkannya sedikit demi sedikit, dan kemudian mewujudkan ”pesta Natal” sederhana di panti-panti asuhan atau membantu membiayai sekolah teman-teman yang kurang mampu.
Itulah makna Natal yang sebenarnya. Sederhana dan berbagi kasih untuk sesama yang kurang beruntung agar mereka pun merasakan damai Natal.
MuDAers, Selamat Natal!!