Inkulturisasi katolik

Yesus Seakan Lahir di Jawa Barat

Kompas.com - 25/12/2010, 00:28 WIB

DEPOK, KOMPAS.com - Yesus Kristus sang juru selamat seakan lahir di Jawa Barat, dan bukan di Betlehem, Israel. Hal ini karena Misa Kudus Malam Natal di Paroki, Santo Thomas, Kelapa Dua, Depok, mengunakan alat musik angklung saat mengumandangkan lagu-lagu Natal.

"Sepertinya Jesus lahir di Jawa Barat. Entah di Cipanas, di Cianjur, saat mendengar lagu Malam Kudus diringi angklung dan seruling tadi," ujae Pastor Christoforus Lamen Sani, pastor paroki, saat penutupan misa, Jumat (24/12/2010) malam.

Gereja Santo Thomas yang terletak dalam kompleks Brimob Kelapa Dua, Depok, ini dihadiri sekitar 3.000 umat. Acara misa malam Natal ini memang sengaja menampillkan alat musik lokal, bagian dari anjuran Konferensi Para Uskup se-Indonesia yang menganjurkan inkulturisasi dalam setiap ibadat di gereja Katolik.

Selain angklung dan seruling, misa Natal juga menampilkan kolintang dan semua penampilan ini dipersembahkan oleh sejumlah murid sekolah Katolik di Paroki Santo Thomas.

Pengunaaan alat musik lokal dan juga pakaian adat serta budaya lokal merupakan bagian dari keputusan Konsili Vatikan Ke II yang menegaskan agar gereja Katolik selalu dekat dengan budaya dan masyarakat, tempat Gereja berada.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau