Sejumlah menteri dan pejabat negara juga akan menyaksikan laga krusial ini. Para suporter Indonesia yang membeli tiket di loket Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur mendapatkan kaus gratis, Sabtu (25/12). Para suporter yang sudah membeli hari berikutnya juga bisa memperoleh replika kaus timnas berwarna merah itu dengan menunjukkan tiket yang sudah dibeli.
”Ada sekitar 5.000 kaus sumbangan yang diberikan secara gratis kepada para suporter dan sudah habis terdistribusikan,” ujar Konselor Bidang Informasi, Sosial, dan Budaya KBRI Widyarka Ryananta.
Replika kaus timnas Indonesia itu merupakan sumbangan sejumlah pihak dari Indonesia. Pembagian kaus ini diharapkan bisa menetralkan atmosfer di Stadion Bukit Jalil yang bakal didominasi warna kuning pendukung timnas Malaysia.
Pembagian kaus itu dipadati oleh warga negara Indonesia yang ada di Kuala Lumpur. Mereka mengantre untuk mendapatkan kaus yang jumlahnya terbatas itu. Sejumlah pendukung yang tidak kebagian kaus membeli di penjual atribut timnas yang membuka lapak di depan KBRI. Ada juga yang membeli di gerai-gerai yang ada di kompleks Stadion Bukit Jalil.
Ketua Persatuan Masyarakat Indonesia (Permai) di Malaysia, Maghroji Maghfur, menjelaskan, anggota paguyuban juga sudah memperoleh jatah kaus untuk memerahkan Stadion Bukit Jalil. Para suporter Indonesia akan mendukung perjuangan para pemain untuk memenangi sepak bola.
”Kami akan beramai-ramai datang menyaksikan pertandingan dengan mengenakan kaus merah timnas. Dukungan ini kami harap bisa menambah semangat para pemain untuk menang,” ujar Maghfur yang sudah 30 tahun di Malaysia.
Panitia lokal Piala AFF 2010 di Malaysia mengalokasikan 15.000 lembar tiket untuk suporter Indonesia, 13.500 lembar di antaranya dijual di loket KBRI. Sementara 1.500 lembar diambil oleh PSSI untuk cadangan. Sampai dengan Sabtu petang, tiket tersebut tersisa tiket 50 lembar. Malaysia mencetak 88.000 tiket pertandingan final laga pertama.
Widyarka menambahkan, suporter yang datang langsung dari Jakarta juga banyak. Mereka membeli tiket langsung di Stadion Bukit Jalil. KBRI akan menyediakan transportasi bagi para suporter yang akan berangkat ke stadion. Pendukung dari kalangan mahasiswa akan berkumpul di kampus masing-masing dan diangkut menggunakan kendaraan dari KBRI.
Final laga pertama ini, lanjut Widyarka, juga akan disaksikan oleh sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu II. Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Andi A Mallarangeng dan Sekretaris Kabinet Dipo Alam sudah tiba di Kuala Lumpur Sabtu siang.
Sementara utusan Presiden, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, baru tiba Minggu siang. Beberapa menteri yang dijadwalkan hadir adalah Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi EE Mangindaan, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Syarifuddin Hasan, serta Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar.
Selain para menteri juga akan hadir sejumlah pejabat, seperti Ketua DPR Marzuki Alie, Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, dan sejumlah anggota DPR.
”Kami dapat jatah 500 tiket seharga 50 ringgit dan kami alokasikan untuk rombongan menteri dan pejabat negara. Kami juga mendapat tambahan 200 tiket untuk antisipasi jika kurang,” ujar Duta Besar Republik Indonesia untuk Malaysia Da’i Bachtiar.
Pada Sabtu petang di lobi Hotel Palace of The Golden Horses, tempat menginap timnas Indonesia, Riedl menyampaikan penolakan memenuhi undangan Menpora. Undangan makan malam bersama pemain timnas itu tidak bisa dipenuhi Riedl karena mereka harus beristirahat. ”Setelah makan malam, para pemain harus kembali ke kamar dan tak boleh keluar lagi,” ujar Riedl.
Riedl sempat tiga kali dibujuk Manajer Timnas Andi Darussalam Tabussala yang didampingi oleh dua asistennya, Iwan Budianto dan Chandra Solehan. Riedl yang ketat menjalankan aturannya itu menutup pembicaraan dengan menyampaikan maaf tidak bisa memenuhi undangan dan kembali ke kamarnya.