10 Titik Rawan Perjalanan KA

Kompas.com - 27/12/2010, 03:39 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS - PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi VI Yogyakarta mewaspadai 10 titik rawan perjalanan kereta api pada musim hujan ini yang berpotensi tergenang banjir dan ambles. Antisipasi ekstra diterapkan dengan pemantauan rel dan penambahan petugas perawatan. Keamanan perjalanan menjadi perhatian utama.

PT KAI Daop VI mengidentifikasi terdapat tujuh titik rawan banjir dan tiga titik rawan ambles di wilayah operasinya yang terbentang dari Kutoarjo, Yogyakarta, Solo, Purwodadi, hingga Sragen. ”Antisipasi teknis sudah dipersiapkan jika terjadi potensi bencana di wilayah-wilayah itu,” kata Kepala Humas PT KAI Daop VI Eko Budiyanto, Minggu (26/12).

Dari data rencana operasi kesiapan angkutan Natal dan Tahun Baru 2010 Daop VI, dua titik rawan banjir dan satu titik rawan ambles terdapat di ruas Kutoarjo-Yogyakarta. Di ruas Yogyakarta-Solo juga terdapat dua titik rawan banjir.

Wilayah paling banyak terdapat titik rawan ialah ruas Solo-Purwodadi dan Solo-Sragen, yakni dua titik rawan ambles dan tiga titik rawan banjir. ”Di wilayah itu, potensi rawan banjir cukup besar karena luapan Sungai Bengawan Solo. Ada beberapa tanah yang strukturnya juga labil,” kata Eko.

Eko menambahkan, sekitar sebulan lalu di wilayah Goprak, Purwodadi, sempat terjadi peristiwa tergerusnya landasan rel dan sempat mengganggu perjalanan kereta api. ”Peristiwa itu terjadi karena posisi rel yang melintasi areal persawahan dan tergerus air,” katanya.

Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, Eko mengemukakan, pihaknya telah menambah 22 petugas ekstra untuk melakukan perbaikan dan pemantauan titik-titik rawan tersebut. ”Kami siagakan petugas-petugas itu di stasiun-stasiun terdekat dengan titik rawan tersebut,” ujarnya.

Di samping petugas, PT KAI Daop VI juga menyiapkan material-material untuk perbaikan seperti kerikil, bantalan rel, dan rel apabila sewaktu-waktu diperlukan untuk perbaikan. ”Kami juga menyiagakan kereta khusus untuk keperluan mengangkut material-material tersebut,” kata Eko.

Musim hujan

Seperti diberitakan sebelumnya, wilayah DIY mulai memasuki musim hujan pada Desember ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta memperkirakan puncak curah hujan terjadi pada awal Januari 2011.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Yogyakarta Tonny Agus Wijaya mengatakan, puncak musim hujan di DIY diperkirakan awal Januari. ”Pada saat itu, intensitas curah hujan bisa mencapai 150 milimeter. Itu termasuk kategori intensitas tinggi,” katanya.

Tingginya curah hujan dikarenakan pengaruh angin monsoon Asia yang akan dominan pada saat itu. Angin yang bertiup dari utara (Benua Asia) tersebut, dikatakan Tonny, membawa uap air dalam jumlah banyak dan akan berkumpul di sekitar DIY yang membawa hujan.

Kunjungan wisatawan

Minggu kemarin, hujan lebat disertai angin turun merata sejak sore di Yogyakarta. Kepadatan di jalan-jalan utama terjadi karena pada saat yang bersamaan sejumlah tempat tujuan wisata didatangi pengunjung. Sejak Sabtu siang, kawasan Malioboro padat dengan wisatawan dari luar DIY.

Hal sama terjadi di sejumlah tempat wisata seperti Kaliurang, Parangtritis, dan Prambanan. Selain dari kendaraan pribadi yang memadati jalan-jalan utama di DIY, datangnya wisatawan untuk libur akhir tahun dapat dikenali dari ramainya stasiun dan terminal. ”Begitu datang, saya langsung pesan tiket bus ke Jakarta karena padat,” ujar Yanto (42), di Terminal Jombor

Yanto yang datang bersama keluarganya ingin menghabiskan akhir tahun di DIY. Di samping mengunjungi keluarga yang tersebar di sejumlah wilayah di DIY, tempat-tempat wisata andalan di DIY akan dikunjunginya.

”Anak saya ingin melihat kondisi di sekitar Merapi yang habis tersapu awan panas,” ungkap Yanto.

Karena kunjungan wisatawan ini, rumah makan yang menjadi tujuan wisata kuliner di DIY juga ramai dikunjungi. ”Selain relatif murah dan terjangkau, banyak pilihan wisata kuliner di Yogyakarta. Setelah seharian berwisata, enaknya memang kumpul bareng keluarga sambil makan,” ujar Galuh (29), yang berlibur dari Jakarta. (ENG/INU)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau