PT KAI Daop VI mengidentifikasi terdapat tujuh titik rawan banjir dan tiga titik rawan ambles di wilayah operasinya yang terbentang dari Kutoarjo, Yogyakarta, Solo, Purwodadi, hingga Sragen. ”Antisipasi teknis sudah dipersiapkan jika terjadi potensi bencana di wilayah-wilayah itu,” kata Kepala Humas PT KAI Daop VI Eko Budiyanto, Minggu (26/12).
Dari data rencana operasi kesiapan angkutan Natal dan Tahun Baru 2010 Daop VI, dua titik rawan banjir dan satu titik rawan ambles terdapat di ruas Kutoarjo-Yogyakarta. Di ruas Yogyakarta-Solo juga terdapat dua titik rawan banjir.
Wilayah paling banyak terdapat titik rawan ialah ruas Solo-Purwodadi dan Solo-Sragen, yakni dua titik rawan ambles dan tiga titik rawan banjir. ”Di wilayah itu, potensi rawan banjir cukup besar karena luapan Sungai Bengawan Solo. Ada beberapa tanah yang strukturnya juga labil,” kata Eko.
Eko menambahkan, sekitar sebulan lalu di wilayah Goprak, Purwodadi, sempat terjadi peristiwa tergerusnya landasan rel dan sempat mengganggu perjalanan kereta api. ”Peristiwa itu terjadi karena posisi rel yang melintasi areal persawahan dan tergerus air,” katanya.
Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, Eko mengemukakan, pihaknya telah menambah 22 petugas ekstra untuk melakukan perbaikan dan pemantauan titik-titik rawan tersebut. ”Kami siagakan petugas-petugas itu di stasiun-stasiun terdekat dengan titik rawan tersebut,” ujarnya.
Di samping petugas, PT KAI Daop VI juga menyiapkan material-material untuk perbaikan seperti kerikil, bantalan rel, dan rel apabila sewaktu-waktu diperlukan untuk perbaikan. ”Kami juga menyiagakan kereta khusus untuk keperluan mengangkut material-material tersebut,” kata Eko.
Seperti diberitakan sebelumnya, wilayah DIY mulai memasuki musim hujan pada Desember ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta memperkirakan puncak curah hujan terjadi pada awal Januari 2011.
Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Yogyakarta Tonny Agus Wijaya mengatakan, puncak musim hujan di DIY diperkirakan awal Januari. ”Pada saat itu, intensitas curah hujan bisa mencapai 150 milimeter. Itu termasuk kategori intensitas tinggi,” katanya.
Tingginya curah hujan dikarenakan pengaruh angin monsoon Asia yang akan dominan pada saat itu. Angin yang bertiup dari utara (Benua Asia) tersebut, dikatakan Tonny, membawa uap air dalam jumlah banyak dan akan berkumpul di sekitar DIY yang membawa hujan.
Minggu kemarin, hujan lebat disertai angin turun merata sejak sore di Yogyakarta. Kepadatan di jalan-jalan utama terjadi karena pada saat yang bersamaan sejumlah tempat tujuan wisata didatangi pengunjung. Sejak Sabtu siang, kawasan Malioboro padat dengan wisatawan dari luar DIY.
Hal sama terjadi di sejumlah tempat wisata seperti Kaliurang, Parangtritis, dan Prambanan. Selain dari kendaraan pribadi yang memadati jalan-jalan utama di DIY, datangnya wisatawan untuk libur akhir tahun dapat dikenali dari ramainya stasiun dan terminal. ”Begitu datang, saya langsung pesan tiket bus ke Jakarta karena padat,” ujar Yanto (42), di Terminal Jombor
Yanto yang datang bersama keluarganya ingin menghabiskan akhir tahun di DIY. Di samping mengunjungi keluarga yang tersebar di sejumlah wilayah di DIY, tempat-tempat wisata andalan di DIY akan dikunjunginya.
”Anak saya ingin melihat kondisi di sekitar Merapi yang habis tersapu awan panas,” ungkap Yanto.
Karena kunjungan wisatawan ini, rumah makan yang menjadi tujuan wisata kuliner di DIY juga ramai dikunjungi. ”Selain relatif murah dan terjangkau, banyak pilihan wisata kuliner di Yogyakarta. Setelah seharian berwisata, enaknya memang kumpul bareng keluarga sambil makan,” ujar Galuh (29), yang berlibur dari Jakarta.