JAKARTA, KOMPAS.com - Di pengujung tahun ini, bank sentral China kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (0,25 persen ) menjadi 5,81 persen. Sedangkan bunga deposito berjangka satu tahun naik 25 poin jadi 2,75 persen. Ini kali kedua China menaikkannya dalam dua bulan terakhir.
Para analis menilai langkah tersebut akan memberikan sentimen negatif ke bursa saham kawasan Asia. Termasuk ke Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), di tengah makin sepinya transaksi perdagangan di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI).
Meski begitu, pengamat pasar modal, Irwan Ariston Napitupulu, memprediksikan dampak pengetatan ini tidak akan berlangsung lama. "Kemungkinan hanya seminggu ini," imbuhnya. Sebab, keputusan China menaikkan suku bunga ini saat keadaan ekonomi negara itu masih bagus. Dia menambahkan, melemahnya bursa saham lebih disebabkan oleh kekhawatiran pasarterhadap menurunnya permintaan komoditas dari China. Padahal, seperti kita ketahui, pergerakan IHSG sangat dipengaruhi oleh saham-saham komoditas.
Maklum, hampir 30 persen dari kapatalisasi di BEI didominasi oleh saham komodas. Toh, menurut Irwan, permintaan komoditas masih besar. Pasar makin sepi Krishna Dwi Setiawan, Head of Business Development Dhanawibawa Arthacemerlang, melihat kian sepinya transaksi membuat IHSG tidak akan bergerak banyak hingga akhir tahun ini. Dia memprediksikan IHSG justru akan bergerak di kisaran 3.580-3.650 sampai akhir tahun 2010.
Sulit rasanya IHSG tahun ini akan berakhir di level 3.800. Apalagi, perdagangan bursa tinggal tersisa empat hari. Agar bisa mencapai 3.800, minimal IHSG naik 1 persen setiap hari selama empat hari. "Jika ingin tutup di level 3.800, harusnya IHSG sudah menunjukkan tandanya sejak seka rang," ujar Krishna.
Jansen Nasrial, analis Sinarmas Sekuritas, pun pesimistis. "Sulit indeks bisa ke level 3.800 di akhir tahun," katanya. Dia menduga IHSG maksimal akan ditutup di 3.640.
Maklum, beberapa institusi pengelola dana sudah tutup buku. Bowo Witjaksono, Presiden Direktur Recapital Asset Management, mencontohkan, dana pensiun sudah harus merealisasikan keuntungan. "Redemption, baru mereka masuk lagi di awal tahun, karena aturan mereka masih begitu," jelasnya. Sebab, dana pensiun biasanya dinilai dari realisasi keuntungan dan bukan dari pertumbuhannya. (Avanty Nurdiana, Raka Mahesa, Dyah Ayu K./Kontan)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang