Saham

Investor Libur, IHSG Gagal ke 3.800?

Kompas.com - 27/12/2010, 09:26 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Di pengujung tahun ini, bank sentral China kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (0,25 persen ) menjadi 5,81 persen. Sedangkan bunga deposito berjangka satu tahun naik 25 poin jadi 2,75 persen. Ini kali kedua China menaikkannya dalam dua bulan terakhir.

Para analis menilai langkah tersebut akan memberikan sentimen negatif ke bursa saham kawasan Asia. Termasuk ke Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), di tengah makin sepinya transaksi perdagangan di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI).

Meski begitu, pengamat pasar modal, Irwan Ariston Napitupulu, memprediksikan dampak pengetatan ini tidak akan berlangsung lama. "Kemungkinan hanya seminggu ini," imbuhnya. Sebab, keputusan China menaikkan suku bunga ini saat keadaan ekonomi negara itu masih bagus. Dia menambahkan, melemahnya bursa saham lebih disebabkan oleh kekhawatiran pasarterhadap menurunnya permintaan komoditas dari China. Padahal, seperti kita ketahui, pergerakan IHSG sangat dipengaruhi oleh saham-saham komoditas.

Maklum, hampir 30 persen dari kapatalisasi di BEI didominasi oleh saham komodas. Toh, menurut Irwan, permintaan komoditas masih besar. Pasar makin sepi Krishna Dwi Setiawan, Head of Business Development Dhanawibawa Arthacemerlang, melihat kian sepinya transaksi membuat IHSG tidak akan bergerak banyak hingga akhir tahun ini. Dia memprediksikan IHSG justru akan bergerak di kisaran 3.580-3.650 sampai akhir tahun 2010.

Sulit rasanya IHSG tahun ini akan berakhir di level 3.800. Apalagi, perdagangan bursa tinggal tersisa empat hari. Agar bisa mencapai 3.800, minimal IHSG naik 1 persen setiap hari selama empat hari. "Jika ingin tutup di level 3.800, harusnya IHSG sudah menunjukkan tandanya sejak seka rang," ujar Krishna.

Jansen Nasrial, analis Sinarmas Sekuritas, pun pesimistis. "Sulit indeks bisa ke level 3.800 di akhir tahun," katanya. Dia menduga IHSG maksimal akan ditutup di 3.640.

Maklum, beberapa institusi pengelola dana sudah tutup buku. Bowo Witjaksono, Presiden Direktur Recapital Asset Management, mencontohkan, dana pensiun sudah harus merealisasikan keuntungan. "Redemption, baru mereka masuk lagi di awal tahun, karena aturan mereka masih begitu," jelasnya. Sebab, dana pensiun biasanya dinilai dari realisasi keuntungan dan bukan dari pertumbuhannya. (Avanty Nurdiana, Raka Mahesa, Dyah Ayu K./Kontan)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau