Pssi

Menpora Ogah Bicarakan Pemecatan Nurdin

Kompas.com - 27/12/2010, 17:16 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Desakan agar Ketua PSSI Nurdin Halid turun tetap mengalir. Kendati demikian, Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng, ketika ditemui di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (27/12/2010), enggan memberikan komentar apa pun.

"Saya hanya mau berbicara bagaimana kita bisa memenangkan pertandingan pada leg kedua. Masih ada kesempatan. Kita akan bertemu lagi di Senayan. Kita bisa memenangkan pertandingan dengan minimun empat gol. Tentu berat, tapi bukan berarti tidak mungkin. Kita perbaiki kesalahan, atur strategi. Pertandingan belum selesai," kata Andi saat dimintai komentar soal penurunan Nurdin Halid (NH).

Terkait politisasi sepak bola oleh sejumlah tokoh politik, Andi, yang juga politisi Partai Demokrat, enggan memberikan komentar. Dorongan agar NH turun semakin menguat, menyusul kekisruhan pendistribusian tiket yang terjadi sejak pertandingan semifinal.

Puncaknya, pendistribusian tiket yang buruk berujung pada aksi brutal calon pembeli tiket yang tak kebagian kupon. Mereka merusak Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto, Kepala Polda Metro Jaya Irjen Sutarman, dan Andi mengaku telah berulang kali meminta PSSI menambah jumlah loket di Senayan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau