Cuaca Buruk di Perairan Cirebon

Kompas.com - 28/12/2010, 08:16 WIB

Cirebon, Kompas - Gelombang tinggi masih terjadi di pantai utara Jawa Barat, sepanjang Indramayu hingga Cirebon. Sejumlah nelayan memilih tidak berlayar untuk sementara mengingat ketinggian ombak di tengah laut lebih dari 2 meter. Situasi ini membuat hasil tangkapan nelayan menurun.

Kondisi laut di perairan Laut Jawa, menurut sejumlah nelayan, tak menentu, tetapi umumnya cenderung berombak besar pada sore hari. ”Pagi hari kami masih bisa melaut untuk mencari ikan, tapi begitu menjelang siang, kami harus segera kembali pulang karena cuaca sangat buruk,” kata Maryadi (38) nelayan asal Mundu, Kabupaten Cirebon, Senin (27/12).

Menurut Maryadi, gelombang di tengah laut bisa lebih dari 2 meter. Angin pun kencang dan mengakibatkan perahu tradisional seperti miliknya sulit bertahan. Maryadi mengaku hanya mampu melaut sejauh 3 mil dari pantai untuk menghindari gelombang yang kian tinggi di tengah laut.

Nelayan yang mempunyai kapal berbobot mati 30 ton itu kini juga memilih waspada. Sebagian dari mereka memanfaatkan pulau-pulau kecil, seperti Pulau Biawak di Indramayu atau Pulau Bawean di Jawa Timur, untuk berlindung jika suatu saat badai laut datang.

Samhudi, anak buah kapal Bahari yang bersandar di Pelabuhan Kejawanan, Kota Cirebon, menuturkan, buruknya kondisi laut tidak hanya terjadi di Laut Jawa, tetapi juga perairan Sumatera. Namun, cuaca buruk ini, lanjutnya, belum mencapai puncak.

”Setidaknya cuaca setiap hari tak selalu buruk sehingga kami masih bisa mencuri-curi waktu berlayar. Tapi, jika musim angin barat sudah benar-benar datang, bisa jadi kami harus berlindung berminggu-minggu di suatu pulau atau pelabuhan,” katanya.

Waspadai cuaca

Soal cuaca buruk, sejak awal bulan lalu Kesyahbandaran Indramayu sudah memberikan per- ingatan kepada nelayan, terutama pemilik perahu berbobot kecil, untuk berhati-hati. Koko Sudeswara, Kepala Bagian Keselamatan Pelayaran Kesyahbandaran Indramayu, mengimbau pemilik kapal berukuran kurang dari 30 ton selalu memerhatikan cuaca. ”Jika mendung tebal, lebih baik tak melaut sementara,” katanya.

Koko menambahkan, musim angin ini merupakan siklus tahunan yang normal. Ia memperkirakan cuaca buruk ini baru berakhir pada Februari 2011 seiring dengan lewatnya musim angin barat.

Tangkapan menurun

Selama musim angin ini sejumlah nelayan mengaku tak bisa mendapatkan hasil tangkapan maksimal. Sebagian dari mereka bahkan tak membawa pulang ikan karena keburu dikejar cuaca buruk.

”Biasanya kami dapat ikan kambing-kambing tapi sekarang ini sulit. Karena hanya bisa melaut di tepi, ikan yang terjaring pun lebih sedikit dari biasanya. Hanya setengah dari biasanya yang hanya 1 kuintal,” kata Carpin, nelayan asal Gebang, Kabupaten Cirebon.

Penurunan jumlah tangkapan ikan juga terlihat di tempat pelelangan ikan di Gebang. Jumlah ikan yang diperdagangkan, terutama teri, serba tak pasti. Kadang jumlahnya kurang dari 1 ton, padahal biasanya lebih dari 2 ton.

Hanya nelayan rajungan dan udang yang saat ini menikmati panen. Dengan jaring khusus, para nelayan udang atau rajungan mampu menangkap hasil laut rata-rata 50 persen lebih banyak daripada hari biasa. ”Gelombang tinggi ikut menyeret udang dan rajungan dari laut ke pantai. Jadi, kami mudah menangkapnya,” kata Turadi, nelayan rajungan dari Bondet, Kabupaten Cirebon, yang mengeruk 50 kilogram rajungan, Minggu lalu. (NIT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau