Kondisi laut di perairan Laut Jawa, menurut sejumlah nelayan, tak menentu, tetapi umumnya cenderung berombak besar pada sore hari. ”Pagi hari kami masih bisa melaut untuk mencari ikan, tapi begitu menjelang siang, kami harus segera kembali pulang karena cuaca sangat buruk,” kata Maryadi (38) nelayan asal Mundu, Kabupaten Cirebon, Senin (27/12).
Menurut Maryadi, gelombang di tengah laut bisa lebih dari 2 meter. Angin pun kencang dan mengakibatkan perahu tradisional seperti miliknya sulit bertahan. Maryadi mengaku hanya mampu melaut sejauh 3 mil dari pantai untuk menghindari gelombang yang kian tinggi di tengah laut.
Nelayan yang mempunyai kapal berbobot mati 30 ton itu kini juga memilih waspada. Sebagian dari mereka memanfaatkan pulau-pulau kecil, seperti Pulau Biawak di Indramayu atau Pulau Bawean di Jawa Timur, untuk berlindung jika suatu saat badai laut datang.
Samhudi, anak buah kapal Bahari yang bersandar di Pelabuhan Kejawanan, Kota Cirebon, menuturkan, buruknya kondisi laut tidak hanya terjadi di Laut Jawa, tetapi juga perairan Sumatera. Namun, cuaca buruk ini, lanjutnya, belum mencapai puncak.
”Setidaknya cuaca setiap hari tak selalu buruk sehingga kami masih bisa mencuri-curi waktu berlayar. Tapi, jika musim angin barat sudah benar-benar datang, bisa jadi kami harus berlindung berminggu-minggu di suatu pulau atau pelabuhan,” katanya.
Soal cuaca buruk, sejak awal bulan lalu Kesyahbandaran Indramayu sudah memberikan per-
Koko menambahkan, musim angin ini merupakan siklus tahunan yang normal. Ia memperkirakan cuaca buruk ini baru berakhir pada Februari 2011 seiring dengan lewatnya musim angin barat.
Selama musim angin ini sejumlah nelayan mengaku tak bisa mendapatkan hasil tangkapan maksimal. Sebagian dari mereka bahkan tak membawa pulang ikan karena keburu dikejar cuaca buruk.
”Biasanya kami dapat ikan kambing-kambing tapi sekarang ini sulit. Karena hanya bisa melaut di tepi, ikan yang terjaring pun lebih sedikit dari biasanya. Hanya setengah dari biasanya yang hanya 1 kuintal,” kata Carpin, nelayan asal Gebang, Kabupaten Cirebon.
Penurunan jumlah tangkapan ikan juga terlihat di tempat pelelangan ikan di Gebang. Jumlah ikan yang diperdagangkan, terutama teri, serba tak pasti. Kadang jumlahnya kurang dari 1 ton, padahal biasanya lebih dari 2 ton.
Hanya nelayan rajungan dan udang yang saat ini menikmati panen. Dengan jaring khusus, para nelayan udang atau rajungan mampu menangkap hasil laut rata-rata 50 persen lebih banyak daripada hari biasa. ”Gelombang tinggi ikut menyeret udang dan rajungan dari laut ke pantai. Jadi, kami mudah menangkapnya,” kata Turadi, nelayan rajungan dari Bondet, Kabupaten Cirebon, yang mengeruk 50 kilogram rajungan, Minggu lalu.