Banjir Landa Australia Timur

Kompas.com - 29/12/2010, 03:52 WIB

Sydney, Selasa - Banjir terburuk dalam puluhan tahun terakhir akibat curah hujan terus- menerus melanda Australia timur laut, Selasa (28/12). Banjir tersebut memaksa pemerintah mengerahkan helikopter-helikopter militer untuk membantu evakuasi ratusan warganya.

Hujan deras berhari-hari menyusul badai tropis Tasha melintasi Negara Bagian Queensland, pekan lalu, membuat banyak kawasan permukiman dan pertanian kebanjiran dengan curah hujan sampai 27 sentimeter dalam masa 24 jam di beberapa daerah.

Beberapa kota mengalami banjir terburuk mereka dalam 50 tahun, termasuk kota Theodore yang terletak 400 kilometer sebelah barat laut Brisbane, yang sarana transportasi daratnya telah terputus selama dua hari. Sekitar 350 warganya dievakuasi dengan helikopter.

”Menyusul sebuah permintaan dari Queensland, pemerintah menyediakan dua helikopter Blackhawk untuk membantu evakuasi di Theodore,” kata PM Julia Gillard dalam sebuah pernyataan. ”Personel Angkatan Bersenjata Australia bersiap memberikan dukungan lebih lanjut bila diperlukan.”

Menjelang siang, permukaan Sungai Dawson di Theodore naik menjadi 14,59 meter dan terus naik—melewati rekor tahun 1956 pada 14,07 meter—dan sebagian besar kota terendam.

Hal itu mengakibatkan sejumlah seribu orang harus mengungsi. Banjir telah memengaruhi bagian-bagian Queensland tengah dan selatan, dengan lebih dari 100 rumah dan tempat usaha terendam.

Para pejabat mengatakan, walau hujan mulai mereda di beberapa tempat, sejumlah besar air di hulu sungai akan mengalir melewati kota-kota sebelum sampai ke laut. Dan itu membawa ancaman banjir kiriman.

Pemerintah Queensland telah menyatakan beberapa daerah, termasuk Theodore, Chincilla, dan Dalby sebagai zona bencana —sebuah langkah yang memberi polisi wewenang untuk memaksa warga meninggalkan rumah mereka kalau perlu.

Banjir itu diperkirakan telah menyebabkan rusaknya panen senilai lebih dari 400 juta dollar AS di seluruh negara bagian, termasuk panen bunga matahari dan kapas. Adapun sedang krisis itu telah menutup ratusan jalan.

Ini terjadi pada saat tanaman panen itu baru pulih setelah berbulan-bulan kekeringan, kata Brent Finlay, ketua kelompok lobi petani AgForce.

”Tanaman panen itu tampak sangat bagus dua bulan lalu dan itu disapu dari mereka,” kata Finlay. ”Ini adalah tanaman panen yang akan membantu banyak petani pulih setelah kekeringan.”

Pemerintah mengatakan akan memberikan bantuan pada daerah-daerah yang terkena banjir dengan memulihkan infrastruktur yang mendasar, seperti jalan, jembatan, dan sekolah-sekolah.

Polisi telah memperingatkan warga untuk tidak mencoba berkendara melalui jalan-jalan yang tertutup air setelah mereka harus menyelamatkan beberapa orang dari kendaraan-kendaraan—termasuk dua orang dewasa dan dua bocah yang harus berpegang erat-erat pada pohon setelah mobil mereka tersapu banjir. (AFP/AP/DI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau