Pascaerupsi merapi

Lahar Dingin Gerus Lahan Warga

Kompas.com - 30/12/2010, 02:41 WIB

Magelang, Kompas - Banjir lahar dingin di Sungai Pabelan menggerus belasan hektar pekarangan dan tegalan warga Desa Gandasuli, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Selasa (28/12). Sehari sebelumnya, banjir lahar menghancurkan dua rumah dan menggerus puluhan hektar sawah di bantaran sungai.

Pekarangan yang paling banyak rusak ada di Dusun Ngipik dan Randukuning, Desa Gandasuli. ”Tegalan saya sudah habis. Sekarang saya tak punya apa-apa karena rumah juga hilang terbawa lahar,” kata Sumiyati (37), warga Dusun Ngipik.

Hujan lebat di hulu Sungai Pabelan selalu diikuti banjir lahar dingin. Material pasir, tanah, dan batu melaju deras terbawa arus sungai dan menyapu tanggul dan dam di sepanjang aliran sungai.

Di Desa Gandasuli, lebar badan Sungai Pabelan kini hampir 300 meter. Padahal, sebelum Merapi meletus, lebar sungai hanya 50 meter. Pelebaran itu mengikis sawah, tegalan, bahkan beberapa rumah warga.

Sebanyak 15 keluarga di Dusun Ngipik mengungsi karena rumah mereka retak-retak.

Petugas Badan Penanggulangan Bencana Nasional, Rabu (29/12), mengerahkan peralatan berat untuk membuat tanggul sementara guna melindungi permukiman dari lahar dingin.

”Kami juga menunggu bantuan logistik. Sejak sawah dan pekarangan kami tergerus lahar, kami tak punya penghasilan,” kata Taufik, warga Dusun Ngipik.

Di Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, Magelang, sebanyak 901 warga masih tinggal di pengungsian. Mereka adalah korban lahar dingin Kali Putih.

Kondisi mereka, terutama orang lanjut usia dan anak-anak, memprihatinkan. Selain mengalami batuk dan demam, banyak di antara mereka dilanda depresi.

Hujan yang sering turun juga menghambat rehabilitasi pascaerupsi Merapi. Namun, Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo di Semarang memastikan, pembangunan hunian sementara untuk para korban segera diselesaikan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jateng P Jarot Nugroho mengatakan, hunian sementara di Kabupaten Magelang telah selesai semuanya. Hunian itu untuk lebih dari 100 keluarga yang rumahnya rusak diterjang awan panas Merapi.

Kini jumlah keluarga yang rumahnya rusak bertambah akibat terjangan lahar dingin. Mereka juga akan menempati hunian sementara. Di Klaten, hunian sementara ditargetkan siap digunakan 15 Januari 2011.

Pemprov Jateng, menurut Jarot, telah mengajukan dana untuk rekonstruksi dan rehabilitasi sebesar Rp 479,32 miliar kepada pemerintah pusat.

Walau Kaliurang mulai banyak didatangi wisatawan, hal itu belum menunjukkan kawasan wisata ini pulih. Salah satu penyangga wisata, yakni penginapan dan hotel, belum menda- pat tamu. Wisatawan hanya datang, berkeliling, belanja, lalu pulang.

Karena itu, harus diupayakan pemulihan citra dan menggelar acara-acara menarik. Demikian kata Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Kaliurang dan Sekitarnya (Formaks) Farchan Hariem, yang juga pemilik Wisma Puas di Kaliurang, Rabu.

Gerakan menggairahkan wisata Sleman lewat ”Sleman Bangkit” pada 26 Desember-2 Januari, dengan beragam acara, bisa menjadi pemantik. Hal itu perlu cepat dilanjutkan dengan gelaran acara menarik lain. Promosi mesti digencarkan Pemkab Sleman dan Pemprov DI Yogyakarta.

Heribertus Indiantara, Ketua Panitia ”Sleman Bangkit”, yang juga pemilik Omah Jawi di Kaliurang, mengatakan, ketersediaan air bersih merupakan persoalan serius karena sumber air bersih di Umbul Wadon belum bisa mengalir ke Kaliurang.

Kepala Bidang Peninggalan Budaya Nilai dan Tradisi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman Aji Wulantara mengakui, memulihkan pariwisata Sleman pascaerupsi tahun 2010 jauh lebih sulit ketimbang pascaerupsi tahun 2006. (HAN/UTI/PRA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau