Magelang, Kompas -
Pekarangan yang paling banyak rusak ada di Dusun Ngipik dan Randukuning, Desa Gandasuli. ”Tegalan saya sudah habis. Sekarang saya tak punya apa-apa karena rumah juga hilang terbawa lahar,” kata Sumiyati (37), warga Dusun Ngipik.
Hujan lebat di hulu Sungai Pabelan selalu diikuti banjir lahar dingin. Material pasir, tanah, dan batu melaju deras terbawa arus sungai dan menyapu tanggul dan dam di sepanjang aliran sungai.
Di Desa Gandasuli, lebar badan Sungai Pabelan kini hampir 300 meter. Padahal, sebelum Merapi meletus, lebar sungai hanya 50 meter. Pelebaran itu mengikis sawah, tegalan, bahkan beberapa rumah warga.
Sebanyak 15 keluarga di Dusun Ngipik mengungsi karena rumah mereka retak-retak.
Petugas Badan Penanggulangan Bencana Nasional, Rabu (29/12), mengerahkan peralatan berat untuk membuat tanggul sementara guna melindungi permukiman dari lahar dingin.
”Kami juga menunggu bantuan logistik. Sejak sawah dan pekarangan kami tergerus lahar, kami tak punya penghasilan,” kata Taufik, warga Dusun Ngipik.
Di Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, Magelang, sebanyak 901 warga masih tinggal di pengungsian. Mereka adalah korban lahar dingin Kali Putih.
Kondisi mereka, terutama orang lanjut usia dan anak-anak, memprihatinkan. Selain mengalami batuk dan demam, banyak di antara mereka dilanda depresi.
Hujan yang sering turun juga menghambat rehabilitasi pascaerupsi Merapi. Namun, Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jateng P Jarot Nugroho mengatakan, hunian sementara di Kabupaten Magelang telah selesai semuanya. Hunian itu untuk lebih dari 100 keluarga yang rumahnya rusak diterjang awan panas Merapi.
Kini jumlah keluarga yang rumahnya rusak bertambah akibat terjangan lahar dingin. Mereka juga akan menempati hunian sementara. Di Klaten, hunian sementara ditargetkan siap digunakan 15 Januari 2011.
Pemprov Jateng, menurut Jarot, telah mengajukan dana untuk rekonstruksi dan rehabilitasi sebesar Rp 479,32 miliar kepada pemerintah pusat.
Walau Kaliurang mulai banyak didatangi wisatawan, hal itu belum menunjukkan kawasan wisata ini pulih. Salah satu penyangga wisata, yakni penginapan dan hotel, belum menda-
Karena itu, harus diupayakan pemulihan citra dan menggelar acara-acara menarik. Demikian kata Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Kaliurang dan Sekitarnya (Formaks) Farchan Hariem, yang juga pemilik Wisma Puas di Kaliurang, Rabu.
Gerakan menggairahkan wisata Sleman lewat ”Sleman Bangkit” pada 26 Desember-2 Januari, dengan beragam acara, bisa menjadi pemantik. Hal itu perlu cepat dilanjutkan dengan gelaran acara menarik lain. Promosi mesti digencarkan Pemkab Sleman dan Pemprov DI Yogyakarta.
Heribertus Indiantara, Ketua Panitia ”Sleman Bangkit”, yang juga pemilik Omah Jawi di Kaliurang, mengatakan, ketersediaan air bersih merupakan persoalan serius karena sumber air bersih di Umbul Wadon belum bisa mengalir ke Kaliurang.
Kepala Bidang Peninggalan Budaya Nilai dan Tradisi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman Aji Wulantara mengakui, memulihkan pariwisata Sleman pascaerupsi tahun 2010 jauh lebih sulit ketimbang pascaerupsi tahun 2006.