Krakatau, Contoh Hutan Baru

Kompas.com - 30/12/2010, 04:06 WIB

Jakarta, Kompas - Letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 1883 telah melenyapkan segala kehidupan di atasnya. Kini, sebagian pulau di bekas Gunung Krakatau telah ditumbuhi tumbuhan. Kondisi itu menjadikan Kepulauan Krakatau sebagai satu-satunya laboratorium alam pembentukan hutan tropik tanpa campur tangan manusia.

”Krakatau pantas dijadikan sebagai alam warisan dunia (natural world heritage),” kata peneliti Pusat Penelitian (P2) Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Tukirin Partomihardjo, saat membacakan orasi pengukuhannya sebagai profesor riset bidang ekologi dan evolusi di Jakarta, Rabu (29/12).

Selama ini pengetahuan tentang suksesi atau pembentukan komunitas hutan alam beserta fungsi ekosistem hutan tropiknya lebih banyak didasarkan pada pengetahuan proses suksesi sekunder. Namun, Krakatau merupakan contoh suksesi primer hutan tropik karena komunitas sebelumnya hancur tanpa menyisakan apa pun dan menjadi daerah steril.

Pendataan terus-menerus Kepulauan Krakatau lebih dari 125 tahun menunjukkan, proses pembentukan ekosistem hutan tropik sangat kompleks, rumit, dan membutuhkan waktu panjang. Pembentukan komunitas hutan baru itu dipengaruhi oleh hubungan timbal balik antara tumbuhan, binatang, dan dinamika lingkungan sekitarnya, seperti kondisi gunung api, perkembangan biota yang ada, serta perubahan iklim mikro.

”Komunitas tumbuhan Krakatau masih terus berkembang dan terjadi pengayaan jenis,” kata Tukirin.

Perkembangan paling matang dan lengkap berlangsung di Pulau Rakata yang hampir tidak terpengaruh oleh letusan Gunung Anak Krakatau sejak pembentukannya. Puncak Rakata dengan tinggi 700 meter banyak ditumbuhi semak belukar. Adapun beberapa meter di bawah puncak hingga tepi pantai didominasi pohon Neonauclea calycina yang sebarannya dibantu oleh angin.

Sedikit terganggu

Perkembangan komunitas tumbuhan di Pulau Sertung dan Pulau Panjang sedikit terganggu. Ketinggian pulau yang rendah membuat pertumbuhan tumbuhan sangat dipengaruhi oleh letusan Anak Krakatau. Bentang pulau yang relatif datar dan sempit membuat lingkungan kedua pulau juga sangat dipengaruhi oleh kondisi laut.

Adapun Pulau Anak Krakatau, sebagai pulau termuda yang muncul sekitar 1930 dan memiliki kepundan aktif setinggi 400 meter, hanya sebagian kecil daratannya yang tertutup tumbuhan. Berdasarkan data 1992, hanya 17 hektar atau 7 persen luas permukaan pulau yang tertutup tumbuhan. Abu letusan sangat memengaruhi perkembangan tumbuhan di pulau itu karena suhu abu di permukaan bisa mencapai 45 derajat celsius dan 80 derajat celsius pada kedalaman 1 meter.

Profesor riset

Selain Tukirin, pada saat bersamaan juga dikukuhkan peneliti P2 Biologi LIPI, Yohanes Purwanto, sebagai profesor riset bidang etnobotani serta peneliti P2 Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI, Johanis Haba, sebagai profesor riset bidang antropologi.

Dengan bertambahnya tiga profesor riset, LIPI kini memiliki 84 profesor riset. Secara nasional, dari berbagai lembaga penelitian yang ada, jumlah profesor riset menjadi 329 orang.

Kepala LIPI Lukman Hakim mengingatkan agar gelar profesor riset ini menjadi pemacu bagi peneliti untuk lebih giat melakukan penelitian, bukannya justru berhenti meneliti. Penelitian yang dilakukan juga harus disesuaikan dengan kebutuhan dan persoalan yang dihadapi masyarakat.

Terkait kesejahteraan peneliti yang rendah, Lukman mengatakan, pihaknya masih mengupayakan agar peneliti LIPI dapat memperoleh tunjangan fungsional yang memadai. Tunjangan ini diperlukan agar sumber daya unggul yang dimiliki bangsa Indonesia tidak berpindah ke negara lain serta dapat dimanfaatkan untuk terus meningkatkan daya saing bangsa. (MZW)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau