Haul ke-1 gus dur

Intelektualitas Gus Dur Masih Terasa

Kompas.com - 30/12/2010, 12:29 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Intelektualitas KH Abdurrahman Wahid atau yang kerap dipanggil Gus Dur masih kuat terasa di bangsa ini meski sudah setahun lamanya Gus Dur berpulang ke Sang Pencipta.

Intelektualitas Gus Dur yang sarat dengan nilai Keislaman tanpa melupakan nilai keberagaman menjadikan Gus Dur disebut sebagai Bapak Bangsa yang berasal dari kalangan santri, tetapi mampu merangkul berbagai kalangan lintas agama. Putri sulung Gus Dur, Alissa Wahid, merasakan hal tersebut.

"Sepertinya baru kemarin, yah? Tapi sebetulnya setahun ini kami tidak punya jarak yang beda dengan Gus Dur karena Gus Dur masih bisa kami temui di mana-mana," ucap Alissa, Kamis (30/12/2010), dalam acara Seminar Haul ke-1 Gus Dur dengan tema "Menapak Jejak Guru Bangsa" di Masjid Jami Al-Munawaroh, Ciganjur, Jakarta.

Dia pun melihat masih dekatnya Gus Dur bagi masyarakat semata-mata karena pemikiran Gus Dur yang masih relevan dengan kondisi bangsa saat ini. "Nilai-nilai yang beliau perjuangkan untuk Indonesia dan Islam itu ternyata betul-betul memiliki relevansi sangat kuat," ucapnya.

Alissa pun mengenang masa hidup Gus Dur. Ia sering kali mengantarkan bapaknya itu ke berbagai forum internasional. Forum-forum internasional itu pun sering kali terperangah dengan ide-ide Gus Dur.

"Waktu itu Bapak pernah ikut forum tentang pandangan negara-negara pada babak milenium baru. Beliau hadir mewakili negara Muslim. Ketika beliau menyampaikan pandangannya, terkaget-kaget mereka, mana ada orang santri sepintar ini. Hal ini sesuatu yang sangat biasa ditemui," kenang Alissa.

Pakar filsafat politik UI, Rocky Gerung, pun melukiskan Gus Dur sebagai sosok yang memiliki kacamata kenegaraan konstitusi yang luar biasa. "Saya rasa Gus Dur tidak hanya berlebih pada kesolehannya, tapi lebih dari itu dia punya banyak pemikiran yang bisa ditransmisikan oleh berbagai macam orang. Ini luar biasanya Gus Dur," kata Rocky.

Rocky juga mengaku memiliki kesan yang kuat terhadap jiwa keberagaman Gus Dur selama masa perkenalannya. "Tiap Natal, saya selalu dapat telepon dari Gus Dur yang mengucapkan Selamat Natal, padahal saya bukan orang yang sangat religius. Jadi dari awal saya mendeteksi gen kemajemukan dalam diri Gus Dur. Kemajemukan itulah yang hilang dari pemimpin kita saat ini," ucap Rocky.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau