LIPI Kukuhkan 3 Profesor Riset Baru

Kompas.com - 30/12/2010, 20:42 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melantik 3 orang profesor riset baru. Dua di antara profesor riset yang dilantik, Rabu (29/12/2010) kemarin tersebut berasal dari Pusat Penelitian (P2) Biologi LIPI sedangkan satu lainnya berasal dari P2 Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI.

Dr. Tukimin Parmintodiharjo adalah salah satu profesor riset dari P2 Biologi yang dilantik. Ia menekuni bidang ekologi evolusi dan pernah meraih tiga kali penghargaan Satyalancana Karya Satya. Gelar doktornya diperoleh dari Kagoshima University, Jepang.

Salah satu riset unggulannya adalah ekologi evolusi wilayah Krakatau. Saat pelantikannya, ia menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul "Laboratorium Alam Kepulauan Krakatau : dari Model Suksesi ke Restorasi Ekosistem Hutan Tropik."

Dalam orasi ilmiahnya, ia menyampaikan, "letusan Krakatau pada tahun 1883 telah menghantar gugusan pulau ini menjadi tempat paling ideal untuk mempelajari tahapan hunian ekosistem pulau dan pembentukan komunitas hutan tropik sejak awal."

Menurutnya, Krakatau bisa menjadi laboratorium alam yang berfungsi untuk melihat proses suksesi primer, proses perkembangan sebuah ekosistem dari tak ada organisme hingga memiliki biodiversitas yang beragam.

Profesor riset kedua yang dilantik adalah Dr. Ir. Y. Purwanto DEA yang juga berasal dari P2 Biologi LIPI. Ia adalah seorang lulusan Universitas Pierre et Marie Curie, Perancis yang menekuni bidang etnobotani dan etnoekologi, kajian yang mencakup penggunaan tanaman serta pengelolaan ekosistem dalam masyarakat tertentu.

Dalam pelantikannya, ia memberikan orasi berjudul "Nilai-nilai Etnobotani untuk Pembangunan Berkelanjutan." Ia mengatakan, riset-riset etnobotani bisa membantu negara untuk membangun, terutama dalam pemanfaatan sumber daya alam dan mengembangkan kearifan lokal.

Ia mengatakan, "Etnobotani dapat menjembatani pengembangan keanekaragaman hayati dalam rangka meningkatkan kemakmuran dan pembangunan nasional. Syaratnya, etnobotani harus bisa mengaitkan dengan persoalan aktual."

Salah satu yang disinggungnya adalah peran kajian etnobotani dalam mengatasi masalah penyakit, seperti AIDS, Kanker dan hipertensi. Sementara, kajian etnoekologi bisa memfokuskan pada wacana kearifan lokal yang ada dalam masyarakat untuk mendorong konservasi.

Sementara itu, Johanis Haba Ph.D yang berasal dari P2 Kemasyarakatan dan Kebudayaan menyampaikan orasi berjudul "Etnisitas, Identitas, dan Nasionalisme di Wilayah Perbatasan Indonesia." Ia menjelaskan tentang isu-isu penting di wilayah perbatasan Malaysia dan Timor Leste.

Berdasarkan hasil penelitiannya di beberapa daerah perbatasan, ia menjelaskan bahwa wilayah perbatasan hingga kini masih dianggap kawasan pinggiran. "Hal itu terjadi walaupun potensi SDA dan SDM nya melimpah," katanya.

Dalam kesempatan pengukuhan guru besar tersebut, Kepala LIPI mengatakan , "Selama ini banyak peneliti yang sesudah dikukuhkan menjadi guru besar justru berhenti berkarya karena sakit misalnya. Saya harapkan para peneliti yang dikukuhkan sebagai guru besar tetap bisa berkarya."

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau