Depresi

Indonesia Kalah, Saiful Gantung Diri?

Kompas.com - 30/12/2010, 22:23 WIB

PONOROGO, KOMPAS.com — Seorang pegawai negeri sipil (PNS) di Dinas Pertanian Ponorogo, Jawa Timur, Saiful Watoni (48), Kamis (30/12/2010), ditemukan tewas gantung diri setelah sehari sebelumnya, Rabu malam, terlihat asyik nonton bareng final AFF-Suzuki Cup 2010 antara Indonesia dan Malaysia.

Jenazah korban kali pertama ditemukan istrinya dalam kondisi tergantung di ruang bekas garasi mobil milik mertuanya di Kelurahan Nologaten, Kecamatan Ponorogo. Muncul dugaan, Saiful depresi seusai tim nasional (timnas) Indonesia gagal merengkuh kemenangan telak melawan timnas Malaysia.

"Kami tidak bisa menyimpulkan seperti itu, tapi memang informasi dari beberapa saksi menyebutkan bahwa korban sempat nonton bola tadi malam," kata Kapolsek Kota Ponorogo Ajun Komisaris Tulus Hariadi.

Senada dengan Tulus, sejumlah warga mengatakan bahwa pada malam setelah laga final Indonesia melawan Malaysia, PNS golongan III ini masih terlihat berbincang dengan para tetangga, membahas kegagalan timnas Indonesia menjadi juara. Obrolan itu bahkan disebutkan berlangsung hingga larut, sekitar pukul 22.30 WIB. Korban baru beranjak ke dalam rumah setelah satu per satu tetangganya pulang dari warung kopi miliknya.

"Sejak itu tidak ada yang tahu sampai akhirnya istri korban melihatnya sudah tergantung dengan seutas tali diikatkan ke atap garasi rumah," ujar Yufri, kerabat Saiful.

Kabar kematian secara tidak wajar PNS di Dinas Pertanian Ponorogo tersebut membuat warga sekitar gempar. Sebab, Saiful diyakini dalam kondisi sehat. Kenyataan ini juga diamini oleh pihak keluarga korban yang menyatakan bahwa bapak dua anak tersebut tidak memiliki masalah apa pun, apalagi sampai mengalami depresi kejiwaan.

"Yang membuat keluarga bingung itu karena dia (Saiful) selama ini tidak memliki masalah apa pun dan kepada siapa pun," ujar Yufri heran.

Polisi sendiri tidak menemukan sedikit pun bekas penganiayaan pada tubuh Saiful. Keluarga yang ditinggalkan akhirnya hanya bisa pasrah, kemudian menguburkan jenazah di pemakaman desa, sesaat setelah visum di RSUD setempat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau