Gus Dur sebagai Wali Politik Islam

Kompas.com - 31/12/2010, 03:31 WIB

Oleh: Muhammadun*

Judul buku      : Ritual Gus Dur dan Rahasia Kewaliannya Penulis             : Gus Nuril Soko Tunggal dan Khoerul Rosyadi Penerbit           : Galangpress Yogyakarta Tebal               : 204 halaman Cetakan           : I, 2010 Harga              : Rp. 50.000,-

Membaca pemikiran Gus Dur (panggilan akrab KH Abdurrahman Wahid) tidak bisa hanya menggunakan kacamata ilmu sosial yang empirik, rasional, dan positivistik. Pemikiran Gus Dur berkelindan dengan lelaku kehidupannya yang banyak diliputi kejadian suprarasional. Gerak hidup Gus Dur yang melampaui alam metafisika membuat jalan pemikirannya sulit ditebak dalam satu perspektif atau satu disiplin keilmuan. Jalan politik yang dilalui Gus Dur juga penuh dengan teka-teki yang sulit dipecahkan. Banyak yang menahbiskannya sebagai wali, banyak juga yang mencibirnya sebagai orang yang “gila” yang suka mencari sensasi.

Buku bertajuk “Ritual Gus Dur dan Rahasia Kewaliannya” ini bukan saja melihat sisi spiritual yang melekat dalam diri Gus Dur, melainkan juga meneropong gerak kehidupan politik Gus Dur yang tak bisa dilepaskan dengan dunia mistik yang Gus Dur tekuni. Kalau soal kewalian Gus Dur, penulis melihatnya karena Gus Dur lahir dari trah darah biru yang kuat dan tajam nuraninya dalam menangkap isyarat langit. Kedua kakeknya, baik dari bapak maupun ibu, dikenal sebagai tokoh kharismatik yang menjadi pemimpin tertinggi dalam tubuh Nahdlatul Ulama’. Kedua kakek ini dinilai berperan sangat besar membentuk sosok Gus Dur sebagai pribadi yang terjaga spiritualnya.

Dimensi esoteris yang sudah melekat sejak kecil itu mengalir dalam darah politik yang diperankan seorang Gus Dur. Isyarat langit atau isyarat kuburan para wali seringkali dijadikan Gus Dur sebagai “pembisik politiknya” dalam menjalankan berbagai kebijakan politik, baik ketika memimpin Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) atau ketika menjadi Presiden RI. PKB yang dialamatkan Gus Dur sebagai anak kandung NU sering disowankan Gus Dur kepada para kiai sepuh agar mendapatkan berkah menjadi partai besar yang bisa membawa kemaslahatan publik. Tak pelak, kaderisasi partai yang dijalankan Gus Dur juga selalu menunggu wangsit langit dari para kiai sepuh. Gus Dur secara blak-blakan mengakui kalau dia patuh total dengan kiai sepuh untuk menjalankan semua perintah. 

Tatkala menerima pinangan Poros Tengah yang dikomandoni Amien Rais untuk menjadi Presiden RI pada tahun 1999, Gus Dur memainkan mistifikasi politiknya lewat wangsit dari langit yang dikemudian oleh para kiai Langitan. “Kiai Poros Langit” asal Langitan menjadi mistik politik Gus Dur paling masyhur di awal abad ke-21. Kamus politik di Indonesia pun harus menambah kosa kata baru yang belum pernah terjadi dalam laju politik kontempor mutakhir. Dunia politik modern hanya memenuhi indikasi konsolidasi dan kompetisi. Gus Dur tampil dengan konstituennya yang masih tradisional dengan bahasanya yang khas yang menakjubkan.   

Mistik politik Gus Dur hadir sebagai salah satu oase gerak politik di tengah politik dunia abad ke-21. Gerak politik Gus Dur memperkaya khazanah perpolitikan dunia modern yang tidak mau dihegemoni kaum elite dan bangsawan, melainkan juga kaum bawah yang bergerak melakukan mobilisasi vertikal untuk menggapai kesederajatan. Walaupun Gus Dur akhirnya jatuh dari kursi keprisidenannya pada tahun 2001, tetapi warisan politiknya menjadi referensi istimewa dalam politik modern di Indonesia dalam melakukan konsolidasi demokrasi secara deliberatif. 

*Pecinta buku

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau