Tahun Baru, Pemimpin Korut Inginkan Dialog

Kompas.com - 01/01/2011, 15:01 WIB

SEOUL, KOMPAS.com - Korea Utara menyerukan perbaikan hubungan dengan Korea Selatan setelah ketegangan dalam setahun terakhir, ditandai penyerangan berdarah terhadap satu daerah sipil sejak perang Korea.

"Konfrontasi antara Korea Utara (Korut) dan Korea Selatan (Korsel) harus dihentikan secepat mungkin," kata tajuk rencana Tahun Baru di tiga surat kabar terkemuka pemerintah Korut, Sabtu.

"Dialog dan kerja sama harus dilakukan secara pro aktif," kata surat-surat kabar itu.

Hubungan kedua negara memburuk setelah Korut menembaki sebuah pulau perbatasan Korsel pada November lalu, menewaskan empat orang termasuk dua warga sipil. Para pemimpin dunia mengecam keras serangan itu dengan menyerukan agar China mengendalikan sekutunya, yang tindakannya tidak bisa diramalkan itu.

Korsel sejak itu melakukan serangkaian pelatihan militer, termasuk satu pelatihan menggunakan peluru tajam 20 Desember di pulau Yeongpyeong itu. Tetapi Korut tidak melakukan ancaman serangan baru yang lebih mematikan.

Tajuk rencana itu, yang rakyat Korut wajib pelajari, menyatakan :

"Tahun ini kita harus melakukan kampanye yang lebih menentukan untuk memperbaiki hubungan antar Korea. Usaha-usaha aktif harus dilakukan untuk menciptakan satu atmosfir dialog dan kerja sama antara Korut dan Korsel dengan menempatkan kepentingan bersama negara di atas kepentingan lainnya."

Profesor Yang Moo-Jin dai Univesitas Studi Korea Utara di Seoul mengatakan Pyongyang tampaknya berusaha mewujudkan stabilitas di semenanjung Korea untuk memperkuat satu suksesi turun menurun oleh ahli waris Kim Jong-Un, putra bungsu pemimpin Korut Kim Jong Il.

Kim Jong-Un diangkat menjadi jendral bintang empat, memeroleh jabatan penting di dalam partai yang berkuasa. Ia muncul dalam foto-foto dan tampil dalam parade massa bersama dengan ayahnya, yang kesehatannya menurun.

Tajuk rencana itu, yang disiarkan kantor berita resmi Korut KCNA, juga menegaskan kembali bahwa Pyongyang, yang kegiatan nuklirnya dibahas dalam perundingan enam negara yang macet itu,  tetap menginginkan denuklirisasi. Tetapi mengacu pada pelatihan-pelatihan militer Korsel yang kadang-kadang melibatkan Amerika Serikat, surat-surat kabar itu memperingatkan:

"Penting sekali untuk mengecek pelatihan perang yang ditargetkan terhadap Korut dan peningkatan kekuatan militer pasukan asing yang senang perang di dalam negeri, yang menjadi ancaman serius bagi keamanan nasional dan perdamaian."

Selain mengecam tindakan negara komunis itu menembaki pulau Yeonpyeong, Seoul juga menuduh Korut menenggelamkan sebuah kapal perang Korsel dekat perbatasan yang disengketakan di Laut Kuning, satu tuduhan yang dibantah keras oleh Pyongyang.

Isyarat damai dalam tajuk rencana itu bertentangan dengan bahasa perang yang sebagian besar digunakan Korut pada tahun lalu saat hubungan dengan Seoul menegang. Akan tetapi, tajuk rencna itu memperingatkan:

"Bahaya perang harus disingkirkan dan perdamaian agar tetap dipertahankan di semenanjung Korea. Jika perang meletus di wilayah ini, itu merupakan pembantaian nuklir."

Desember lalu, Korut memperingatkan bahwa pihaknya siap melakukan  "perang suci" dengan mengunakan senjata-senjata nuklirnya ketika Korsel melakukan pelatihan militer dengan menggunakan peluru tajam dalam satu unjuk kekuatan.

Korut mundur dari perundingan nuklir yang macet -- yang melibatkan dua Korea, AS, Rusia, China dan Jepang--  pada bulan April 2009 dan memerintahkan tim inspeksi nuklir PBB meninggalkan negara itu. Korut melakukan uji coba nuklir kedua sebulan kemudian.

Kebanyakan isi tajuk rencana tersebut yang dianggap sebagai penetapan arah kebijakan negara itu pada tahun mendatang, dipusatkan pada perbaikan standar hidup di Korut, di mena negata tersebut mengalami kekurangan pangan. 

Pemimpin Korut Kim Jong Il yang dikutip media pemerintah mengatakan:  "Kita harus lebih cepat mewujudkan masa depan yang cerah dengan terus melakukan inovasi-inovasi dan kemajuan, penuh keyakinan pada kemenangan."

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau