Transportasi publik

Duh, Saya Sudah 45 Menit Berdiri...

Kompas.com - 03/01/2011, 13:28 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Raka (3) sudah 30 menit menunggu. Karena kesal, dia menjejakkan kakinya ke lantai, merengek-rengek kepada ibunya sambil menunjuk bus transjakarta yang berhenti di shelter Grogol 2, tetapi tak mengangkut penumpang karena bus yang berhenti menuju Pluit.

Sementara belasan penumpang lain yang menunggu bus transjakarta arah Pinang Ranti terlihat resah, kesal, dan mulai marah-marah. "Duh, lama sekali. Saya sudah 45 menit berdiri depan pintu. Kok, tujuannya semua ke Pluit. Padahal, saya cuma mau ke Slipi," kata Fera (22) yang mengaku memiliki janji dengan temannya.

"Kalau begini, enggak bisa diandalkan transjakarta," kata Miko (30) yang hendak menuju Semanggi.

Minimnya armada transjakarta koridor IX jurusan Pinang Ranti-Pluit dan sebaliknya dikeluhkan belasan penumpang. Rata-rata penumpang harus menunggu 30-45 menit untuk ke tempat tujuannya.

Setelah lama menunggu, bus yang dinanti pun datang. Namun, keluhan penumpang masih berlanjut. Sempitnya ruang shelter Grogol 2 sebagai tempat transit membuat penumpang yang hendak keluar berdesak-desakan dengan yang masuk.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau