Kenaikan Minyak Kurangi Penjualan

Kompas.com - 04/01/2011, 04:27 WIB

Jakarta, Kompas - Kenaikan harga minyak dunia berdampak pada penurunan volume penjualan Pertamax. Harga Pertamax yang semula Rp 7.050 naik jadi Rp 7.500 per liter. Kenaikan harga minyak dunia juga berdampak pada peningkatan harga BBM bersubsidi di tingkat produsen.

Demikian disampaikan Vice President Komunikasi Korporat PT Pertamina (Persero) Mohamad Harun di Jakarta, Senin (3/1). ”Perkiraan sekitar 5 persen penurunannya, tetapi biasanya akan balik lagi,” katanya.

Padahal, margin untuk BBM public service obligation (PSO) sudah ditetapkan dalam nominal rupiah. Karena itu, pihaknya berharap ada keseimbangan dalam menentukan margin BBM PSO agar perseroan itu tidak merugi.

Harun menyatakan, kenaikan harga minyak dunia disebabkan tiga hal. Dari sisi permintaan, negara-negara industri yang merupakan konsumen terbesar mengalami musim dingin ekstrem sehingga kebutuhan minyak meningkat.

Dari sisi suplai, negara-negara OPEC tidak ingin menambah kuota produksinya. Selain itu, harga minyak dunia dalam dollar AS saat ini juga melemah pada hampir setiap mata uang. ”Ini menyebabkan harga minyak terkerek naik,” ujarnya.

Sementara itu Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, pemerintah tidak khawatir dengan kenaikan beban biaya pembelian BBM yang berpotensi dialami pemilik mobil berpelat hitam hingga 100 persen jika pengaturan BBM diberlakukan pada awal April 2011.

Harga minyak mentah di pasar dunia diperkirakan akan sulit melampaui 100 dollar AS per barrel sehingga harga Pertamax domestik masih bisa ditekan di bawah Rp 9.000 per liter.

Menurut Hatta, hingga akhir tahun 2010, Indonesia Crude Price (ICP) rata-rata sepanjang tahun sebesar 78 dollar AS per barrel. Adapun asumsi yang ditetapkan dalam APBN Perubahan 2010 adalah 80 dollar AS per barrel.

Meredam dampak negatif

Sekretaris Jenderal Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia sekaligus ekonom Universitas Gadjah Mada, Anggito Abimanyu, mengingatkan pemerintah pada potensi kenaikan harga BBM yang akan dirasakan pemilik kendaraan pribadi.

Potensi kenaikan harga minyak di pasar dunia bisa menyebabkan harga Pertamax naik hingga Rp 8.900 per liter.

”Kalau harga Pertamax mencapai Rp 8.900 per liter, itu artinya pemilik mobil pelat hitam yang biasa menggunakan premium dengan harga subsidi Rp 4.500 per liter akan merasakan lonjakan biaya pembelian BBM dua kali lipat ketika program pengaturan BBM diberlakukan pada April 2011,” tuturnya.

Hatta menambahkan, untuk meredam dampak negatif pergerakan harga minyak dunia, Indonesia harus mengamankan sisi suplai dan permintaan.

Dari sisi suplai, pemerintah memastikan target produksi siap jual (lifting) minyak dan gas dalam APBN 2011 tercapai, yakni 970.000 barrel per hari.

Untuk mendorong produksi itu, pemerintah mempersiapkan berbagai kebijakan yang memberikan insentif kepada pelaku bisnis di sektor migas. Itu antara lain dengan menyelesaikan peraturan pemerintah tentang cost recovery, PP tentang lingkungan hidup yang terkait dengan ladang eksploitasi migas, serta menyelesaikan masalah asas cabotage.

”Adapun di sisi permintaan, program diversifikasi energi harus tetap dilakukan. Tidak hanya panas bumi, tetapi juga gas. Salah satunya adalah menyeragamkan harga jual gas, baik dari Pertamina maupun dari PN Gas. Kami juga harus mendorong pengusaha untuk meningkatkan infrastruktur dan meningkatkan stasiun pengisian bahan bakar gas, yang terkait dengan yield yang akan diperoleh pengusaha,” ujar Hatta. (EVY/oin)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau