Kisah Warisan di Balik Bentuk Tubuh Anda

Kompas.com - 04/01/2011, 08:52 WIB

KOMPAS.com - Coba kumpulkan foto ibu kita mulai dari beliau belia hingga usia lanjut seperti sekarang. Amati bagaimana tubuhnya berubah. Mengapa pengamatan ini menjadi penting, karena penelitian yang dilakukan Universitas Harvard mengungkapkan, foto yang bercerita mengenai perubahan bentuk ibu itu akan memberikan gambaran bagaimana bentuk tubuh kita nantinya.

Penelitian yang dipublikasi dalam Journal of Obesity ini juga menemukan fakta, pemilik tubuh apel ternyata lebih sering mewariskan bentuk tubuhnya kepada anak-anak perempuannya. Jadi apabila ibu kita memiliki kecenderungan menumpuk lemak pada perut, maka kita berpeluang lebih besar untuk ikut memiliki bentuk tubuh apel.

Apabila kondisi ini dilihat secara ilmu kesehatan, kita juga berisiko untuk mengidap diabetes serta gangguan pada arteri jantung. Sebab lemak pada perut mengeluarkan enzim yang bisa mengacaukan produksi insulin serta kelancaran kerja pembuluh darah.

Adalah Prof C. Ronald Kahn, MD, dan timnya yang melakukan penelitian tersebut. Penelitian Kahn juga mengungkapkan, genetika juga memengaruhi proses pembentukan otot pada tubuh. Orang yang memiliki gen pembentuk otot, intensitas olahraganya tak perlu melakukan olah fisik yang berat. Sebab gen yang diwariskan membuat proses pembakaran lemak lebih cepat, plus pembentukan otot lebih mudah.

“Gen juga yang mempengaruhi seberapa besar kesukaan kita pada makanan. Gen neurexin 3 adalah salah satu dari tiga gen yang memengaruhi lingkar pinggang,” ucapnya seraya memaparkan gen ini juga membuat seseorang mudah sekali memiliki kebiasaan adiktif seperti kecanduan terhadap alkohol atau rokok. Penelitian menyebutkan ada sebanyak 20 persen orang dalam populasi dunia yang memiliki gen ini. “Ini bisa menjadi salah satu penyebab mengapa obesitas terus meningkat dalam keluarga yang berbobot besar.”

Hal ini diamini oleh Kari E. North, PhD, asisten profesor epidemologi dari University of North Carolina. Plus, tambah North, pada mereka yang mengalami obesitas karena faktor keturunan ada sisi psikologis yang sangat sensitif dan seringnya membuat gagal program penurunan berat badan. North menyontohkan, mereka yang sudah sangat disiplin menurunkan berat badan akan kelelahan jika faktor genetik kemudian menggagalkan program diet. 

“Karena tubuh sudah punya standar berapa banyak lemak yang bisa dibuang dan ketika kita berada di bawah standar, tubuh akan memberontak dengan mengatakan kita kekurangan makanan, dan dari sinilah semua lingkaran makan berlebih kembali dimulai,” katanya.

Apa ini berarti, pemilik bobot berlebih yang karena faktor genetik tak bisa berbuat banyak? “Jangan terlalu cepat menyimpulkan,” North coba menyemangati. Sebab meskipun faktor genetika memainkan peran penting, tapi jika mendampinginya dengan lingkungan yang sehat, maka pada level ini kita sudah melakukan rekayasa genetika.

Sementara itu Kahn menyebutkan, perubahan pola konsumsi dengan lingkungan yang membuat kita mudah menumpuk lemak, adalah faktor yang membuat angka obesitas naik dua kali lipat. “Karena secara logika, genetik ini sudah ada dari tahun ke tahun. Tapi dengan adanya perubahaan gaya hidup di seluruh dunia, akhirnya obesitas menjadi masalah semua orang.”

Maka jika kita masuk dalam keluarga dengan genetika berbobot besar, Kahn memberikan solusi yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Buatlah kebiasaan dan lingkungan yang sehat. Sudah pasti yang dimaksud dengan kebiasaan, tambah Kahn, adalah mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang dan berolahraga. Sedangkan untuk lingkungan, lakukanlah seluruh aktivitas kita dengan memberikan peluang yang cukup besar bagi penerapan hidup sehat.

“Kurangi penggunaan eskalator atau lift, jauhi junk food, dan motivasi seluruh anggota keluarga kita untuk menjalani hidup sehat. Jika semuanya sudah berkomitmen untuk kualitas hidup yang lebih baik, maka tak ada lagi keluhan mengapa berat badan tak kunjung susut,” ucap Kahn antusias.

(Prevention Indonesia Online/Siagian Priska)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau