Megawati Takkan Maju pada 2014

Kompas.com - 05/01/2011, 03:48 WIB

Jakarta, Kompas - Politisi senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Taufiq Kiemas, menuturkan, Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri kemungkinan besar tidak akan maju dalam Pemilu Presiden 2014. Pemilu presiden mendatang sebaiknya diikuti generasi yang berumur 40-50 tahun.

”Tahun 2014 umur Ibu Mega sudah 67 tahun. Jadi, mungkin Ibu tidak ikut pencalonan. Kalau calonnya lebih muda 20 tahun dari Ibu, tidak enak juga (kalau ikut), apalagi kalau kalah lagi,” kata Taufiq, yang juga suami Megawati, Selasa (4/1) di Jakarta.

Setelah menjadi presiden pada 2001-2004, Megawati yang dilahirkan pada 23 Januari 1947 pernah mencalonkan diri sebagai presiden pada Pemilu Presiden (Pilpres) 2004 dan 2009, tetapi gagal.

Taufiq mengaku tidak tahu siapa yang maju pada Pilpres 2014. Namun, kini partai politik memiliki banyak stok calon pemimpin yang berumur 40-50 tahun.

Taufiq menegaskan, omong kosong jika saat ini partai politik belum memikirkan Pilpres 2014 karena waktu efektif yang tersisa tinggal dua tahun lagi. Pasalnya, pada tahun 2013 partai politik sudah harus mulai menyusun daftar calon anggota legislatif.

”Komunikasi sudah harus dimulai dari sekarang. Jika (komunikasi) dilakukan belakangan, menjelang 2014, hubungan yang terjadi akan bersifat transaksional,” ujar Taufiq seraya menambahkan, telah mengusulkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) untuk berkomunikasi dengan Partai Demokrat.

Wakil Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Fadli Zon menuturkan, meski kemungkinan tidak mengikuti Pilpres 2014, Megawati tetap berperan penting dalam menentukan calon yang akan diusung PDI-P.

”Ibu Mega punya kebijaksanaan dan selama ini sangat memegang teguh kata-katanya. Ibu Mega tidak hanya berpikir bagaimana merebut kekuasaan, tetapi juga tentang haluan politik dan apa yang akan dilakukan jika berkuasa,” tutur Fadli. ”Jika pada Pilpres 2009 kami mendukung Ibu Mega, maka pada 2014 bisa saja Ibu Mega mendukung Pak Prabowo (Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra),” tutur Fadli.

Bagi Ketua Partai Golkar Priyo Budi Santoso, pendapat Taufiq tentang perlunya tokoh berumur 40-50 itu merupakan pikiran baru dan bisa dipertimbangkan. Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Saan Mustopa meyakini,

pernyataan Taufiq tentu punya makna dan bukan pernyataan iseng. Namun, membicarakan calon presiden tahun 2014 masih terlalu jauh. (NWO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau