Bunuh diri

Awas, Bunuh Diri di Mal Jadi Tren

Kompas.com - 05/01/2011, 11:05 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Bunuh diri dengan cara terjun dari gedung tinggi, termasuk mal, seperti menjadi tren di kalangan masyarakat perkotaan. Dalam dua hari ini, tiga orang Bunuh diri dengan cara demikian.

Pada hari Selasa (4/ 1/2011) ada dua orang yang terjun bebas dari ketinggian gedung. Iwan (37), tamu Hotel Boetiq di Jalan S Parman, Tomang, Jakarta Barat, pada Selasa dini hari melompat dari lantai 9. Untunglah warga Jalan Mangga Besar XVIII, Tamansari, Jakarta Barat, ini hanya mengalami luka-luka. Dia dirawat di Rumah Sakit (RS) Sumber Waras, Grogol, Jakbar.

Beikutnya, pada pukul 10.45 WIB, Hendrik Cendana (40) alias Ayung, pemilik bengkel dinamo Central Teknik di Jalan Kerajinan, Tamansari, melompat dari lantai 3 Plasa Gajah Mada, Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat. Dia tewas dengan kepala pecah.

Sehari sebelumnya, seorang pegawai tata usaha SMP swasta, Agus Sarwono (45), melompat dari ketinggian sekitar 25 meter di pusat perbelanjaan Blok M Square, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Warga RT 05/03 Kelurahan Cipete Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan, ini tewas seketika.

Menurut psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPT-Ul), Suhati Kurniawati, maraknya bunuh diri dengan meloncat dari ketinggian menandakan bahwa banyak warga kota yang stres atau depresi dalam tingkat tertentu.

Suhati menjelaskan, keputusan bunuh diri akan muncul jika stres dan depresi tak dikelola dengan baik. Bagi orang-orang yang kestabilan emosi dan kepribadiannya tidak berkembang baik sejak masa muda, akan cukup sulit menghadapi dan mengelola rasa stres itu.

"Setiap orang pasti kena stres, baik ringan ataupun berat. Namun, bagi sebagian orang stres tertentu dianggap ringan, tapi bagi yang lain stres yang sama bisa dianggap berat," ujarnya.

Psikolog Forensik dari Universitas Bina Nusantara, Jakarta, Reza Indragiri Amriel, mengatakan, kasus bunuh diri itu mirip fenomena gunung es. Artinya, jumlah kasus yang kita saksikan adalah cuilan kecil dari jumlah kejadian sebenarnya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sampai tahun 2008 belum memiliki data kuantitatif perihal insiden bunuh diri di Indonesia. Namun, kata Reza, setiap tahun ada sekitar satu juta orang yang tewas akibat bunuh diri. Ini setara dengan angka kematian global sebanyak 16 jiwa per 100.000 orang atau 1 kematian setiap 40 detik.

Berita media massa tentang keberhasilan tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh banyak orang, dalam pengertian hilangnya derita hidup serta didapatnya popularitas semu, kata Reza, berpeluang besar menjadi sumber inspirasi bagi individu-individu lain untuk melakukan tindakan serupa. Mereka ini adalah kelompok yang mengalami depresi reaktif yang bersifat akut. Depresi ini berbeda dengan-sebutlah-depresi konvensional yang lazimnya merupakan problem psikologis kronis.

Menurut Reza, keterkaitan antara pemberitaan media dan aksi bunuh diri itu pada gilirannya menghasilkan sebuah istilah populer, yakni copycat suicide atau bunuh diri hasil peniruan. (bum/sab/tos/get)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau