KUDUS, KOMPAS
Hal itu memicu rakyat kecil mencoba mencari alternatif, sebagai pengganti bahan pokok yang tidak terjangkau. Mereka misalnya mengganti beras dengan jagung, tiwul, gaplek, atau bahkan nasi aking.
”Perlu kiranya pemerintah peka terhadap sosialita kehidupan itu. Jangan sampai rakyat kecil menjadi korban terus-menerus,” kata Zamhuri, pengamat sosial Lembaga Studi Sosial dan Budaya Sumur Tolak, di Kudus, Jawa Tengah, Rabu (5/1).
Menurut Zamhuri, kasus keracunan tiwul di Jepara yang menewaskan enam bersaudara dapat menjadi pembelajaran para pengambil kebijakan. Di tengah-tengah harga beras naik atau saat beras di sejumlah daerah surplus, ada keluarga yang tidak mampu membeli beras. ”Saya yakin masih ada keluarga miskin lain yang tidak setiap hari makan nasi,” katanya.
Jamhamid (45), ayah korban keracunan, mengaku keuangan keluarga pas-pasan, bahkan kadangkala tidak mencukupi. Penghasilannya sebagai penjahit di Semarang rata-rata per bulan Rp 1 juta. Seminggu sekali, dia pulang membawa uang untuk keluarganya.