Liga primer indonesia

Panitia Belum Mengantongi Izin

Kompas.com - 06/01/2011, 04:37 WIB

Solo, Kompas - Panitia pelaksana pertandingan perdana Liga Primer Indonesia—yang bersamaan dengan pembukaan LPI di Kota Solo, Jawa Tengah, 8 Januari—belum juga memperoleh izin bertanding dari kepolisian. Pertandingan perdana itu mempertemukan Solo FC dan Persema Malang.

Ketua Panitia Lokal Solo Roy Saputra, Rabu (5/1), menjelaskan, pihaknya telah mengajukan permohonan izin kepada Kepolisian Resor Kota Surakarta tertanggal 3 Januari. Pihaknya hingga kini masih menunggu keluarnya izin untuk penyelenggaraan pertandingan yang akan berlangsung di Stadion Manahan.

”Sampai Rabu sore izin belum keluar. Kepolisian mengatakan masih dalam proses,” kata Roy.

Sebelumnya, Kota Solo sempat menjadi tuan rumah pertandingan pramusim Liga Primer Indonesia (LPI) pada 2-6 Desember 2010. Saat itu tidak ada masalah dalam pengurusan perizinan.

Kendala perizinan ini muncul setelah PSSI mengirim surat ke Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia bahwa federasi sepak bola itu tidak memberi rekomendasi terhadap setiap pertandingan LPI. Dengan demikian, diharapkan kepolisian tidak memberi pengamanan pertandingan LPI.

”Apa dasar hukumnya PSSI melarang kompetisi LPI?” kata Roy.

Jika hingga hari pertandingan izin tidak juga keluar, lanjut Roy, pihaknya menyerahkan keputusan kepada panitia pelaksana pusat LPI. Sampai saat ini persiapan penyelenggaraan sudah 60 persen, berupa kondisi lapangan, tempat latihan, perlengkapan, dan kebutuhan pertandingan lainnya.

Juru bicara LPI, Abi Hasantoso, menjelaskan, izin pertandingan memang belum dikeluarkan oleh Polresta Solo. Namun, proses perizinan masih terus berlangsung. Panitia lokal di Solo masih menunggu jawaban dari Kapolresta Solo.

”Besok pagi (Kamis) kami ada pertemuan dengan Kapolresta Solo dan Kapolda Jawa Tengah. Pertemuan itu untuk menjelaskan tentang LPI kepada jajaran aparat keamanan,” ujar Abi.

Abi menambahi, pihak LPI optimistis kepolisian akan memberikan izin pertandingan perdana. LPI juga dimaksudkan untuk memperbaiki sepak bola nasional.

Sementara itu, sekelompok orang yang menamakan diri warga Pasoepati menggelar aksi dukungan kepada LPI. Mereka yang biasa mendukung tim Persis Solo menggelar aksinya di Bundaran Manahan, Solo. Dengan atribut suporter, mereka mengenakan topeng bergambar beberapa pemain tim nasional dan membawa berbagai poster bertuliskan, antara lain, ”Selamat Datang LPI”, ”2011 Saatnya PSSI Berubah”, dan ”Sepak Bola Tanpa APBD”.

Selain menyatakan dukungan kepada LPI, mereka juga mendesak agar kepolisian segera mengeluarkan izin pertandingan perdana pada 8 Januari mendatang.

Koordinator aksi, Mayor Haristanto, mengatakan, sudah sekian lama sepak bola Indonesia mengalami kebuntuan dan tidak pernah berprestasi. Datangnya LPI diharapkan membawa angin segar bagi persepakbolaan di Tanah Air. ”Ini kehendak masyarakat agar sepak bola kita berubah lebih maju. Mudah-mudahan Kapolri dan kepolisian memberikan izin. Era Nurdin Halid dan kawan-kawan sudah habis. Sebaiknya mereka dengan legawa mundur saja,” ujar Mayor.

Tokoh persepakbolaan Prof Toho Cholik Mutohir menilai, persengketaan antara LPI dan PSSI seharusnya bisa diselesaikan secara baik. (EKI/ANG)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau