Bunuh Diri Masih Bisa Dicegah

Kompas.com - 06/01/2011, 06:55 WIB

Jakarta, KOMPAS — Sebanyak 80-90 persen kasus orang bunuh diri sebenarnya dapat dicegah. Namun, menurut dokter spesialis kesehatan jiwa Siti Halimah, 20 persen sisanya tidak dapat dicegah karena ada gangguan kejiwaan akut dan kuatnya keinginan bunuh diri.

Hal ini dikatakan dr Siti Halimah SpKJ dari Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor, Rabu (5/1/2011). ”Dua puluh persen orang yang punya gejala bunuh diri pasti melaksanakan tindakan bunuh dirinya itu tanpa bisa dicegah. Biasanya penderita mengakhiri hidupnya dengan berbuat fatal, seperti menyilet nadinya atau meminum racun dengan sangat berlebihan,” kata Halimah.

Ia juga menjelaskan, tidak semua kasus bunuh diri karena korbannya mengalami ganguan jiwa. Bunuh diri dapat dipicu karena seseorang mengalami depresi atau menderita psikotik.

Penderita depresi terlihat sangat sedih yang kemudian menimbulkan ide untuk bunuh diri. Pada golongan depresi ini ada juga yang disebut bipolar atau manik depresif. Penderita manik depresif bisa terlihat sangat gembira, tetapi kadang terlihat sangat sedih.

Ketua Program Studi Doktoral Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Hamdi Muluk menambahkan, keputusan bunuh diri tergantung pada daya tahan setiap individu.

”Ada yang memiliki kelenturan pikiran sehingga meskipun didera masalah bertubi dan seakan tanpa jalan keluar, pikiran bunuh diri tidak pernah terlintas. Ini terkait dengan mekanisme setiap orang untuk mengatasi masalah,” kata Hamdi.

Ide untuk bunuh diri juga muncul pada penderita psikotik, yakni seseorang yang kehilangan kemampuan untuk membedakan kehidupan realitas dengan fantasi atau halusinasi. Fantasi atau halusinasi, kata Halimah, bisa berupa bisikan yang mendorong bunuh diri.

Kriminolog dan psikolog UI, Doktor Adrianus Meliala, serta dosen Psikologi Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian dan dosen Universitas Tarumanegara, Lia Sutisna Latif, mengatakan tekanan kemiskinan dan kesedihan atau kemalangan berkepanjangan pun berpotensi membuka peluang bunuh diri. Namun, hal itu bisa diatasi dengan dukungan keluarga dan kawan-kawan dekat.

”Jadi, perbaiki hubungan keluarga dan bersikap terbuka mesra satu sama lain dalam keluarga. Lebih banyaklah bergaul dan carilah dukungan psikis dalam pergaulan tersebut,” tutur Lia.

Meliala menambahkan, faktor tetap dalam kasus bunuh diri adalah perasaan nelangsa atau tak tertolong lagi (helplessness) .

”Yang seharusnya ditekankan adalah ajaran mudah memaafkan, pasrah pada Tuhan, dan berbuat kebajikan. Ajaran ini sangat membantu manusia merasa mempunyai harga,” kata Meliala.

Konseling Bagi anggota keluarga yang menyadari orangtua, anak, atau saudaranya memiliki kecenderungan depresi atau psikotik, lebih baik jika sejak dini yang bersangkutan dibawa konseling dengan psikiater.

”Penderita depresi dan psikotik biasa menunjukkan gejala tertentu. Untuk itu, sejak dini dapat ditolong dengan konseling ke psikater,” tutur Halimah.

Hamdi turut menganjurkan agar masyarakat membuka situs www.janganbunuhdiri.com. ”Mungkin bisa membantu sekedar sharing meredakan keinginan bunuh diri,” katanya. (NEL/WIN/RTS/NDY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau