Australia

Banjir Ancam Keajaiban Dunia

Kompas.com - 06/01/2011, 10:06 WIB

BRISBANE, KOMPAS.com — Banjir besar yang melanda Australia tak hanya mengancam kehidupan manusia dan perekonomian negara itu, tetapi juga kelestarian lingkungan kawasan Karang Penghalang Besar di lepas pantai Negara Bagian Queensland, yang merupakan salah satu keajaiban dunia.

Aliran air banjir dari sungai-sungai besar di Queensland, yang terdiri dari air tawar bercampur lumpur, sampah, tanah subur kaya berbagai nutrisi, dan pestisida, bisa mengancam kelangsungan hidup gugusan terumbu karang terbesar di dunia itu. Karang Penghalang Besar (The Great Barrier Reef), yang masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO, terbentang sepanjang 2.300 kilometer (km) di lepas pantai sebelah timur laut Queensland, negara bagian yang terkena banjir besar sejak sebelum Natal lalu.

Michelle Devlin, peneliti dari James Cook University, Queensland, mengatakan, campuran air bah tersebut bisa membuat karang dan rumput laut di kawasan terumbu karang itu stres. ”Akan ada campuran air yang mengandung berbagai zat yang belum pernah menyentuh karang tersebut. Air tawar yang (suhunya) hangat ini juga akan membuat karang stres,” kata Devlin, yang melacak tumpahan banjir tersebut ke laut untuk mengetahui dampaknya secara langsung, Rabu (5/1/2011).

Devlin mengatakan, tumpahan air bah berwarna coklat sudah terlihat mengalir hingga 40 km dari garis pantai dekat kota Rockhampton, Queensland timur. Dengan banjir diperkirakan masih akan terjadi hingga beberapa minggu mendatang, limpahan air kotor ini bisa mencapai jarak ratusan kilometer ke tengah laut, hingga ke kawasan inti Karang Penghalang Besar, yang terletak hanya sekitar 210 km dari pantai.

Saat ini tumpahan air bah itu mencemari kawasan terumbu karang di Kepulauan Keppel, sekitar 13 km lepas pantai Rockhampton. Menurut Devlin, campuran air banjir tersebut bisa memusnahkan lapisan rumput laut yang menjadi sumber makanan bagi binatang laut langka, seperti ”ikan” duyung (Dugong dugon).

Sementara kandungan berbagai zat nutrisi tanah yang ikut larut dalam campuran air bah itu akan menyuburkan populasi bintang laut berduri (Acanthaster planci), yang menjadi hama bagi terumbu karang. ”Banjir kali ini sangat besar dan berpotensi menggeser pola rantai makanan dan cara hidup terumbu karang (dalam jangka panjang),” tutur Devlin.

Terus meluas Di darat, banjir yang disebabkan gejala iklim La Nina ini terus meluas dan menyebarkan kerusakan. Perdana Menteri Queensland Anna Bligh mengatakan, banjir sudah meluas hingga 40 kota dari sebelumnya hanya merendam 22 kota di negara bagian itu. Sekitar 1.200 rumah telah tenggelam dan sekitar 10.700 rumah lain di seluruh negara bagian rusak terkena dampak banjir.

Di kota Rockhampton, yang mengalami puncak banjir, Rabu, sekitar 500 rumah sudah tenggelam. Apabila air naik 20 sentimeter lagi saja, sekitar 400 rumah lain akan ikut tenggelam. Taman kota berubah menjadi taman bawah air dan lampu-lampu lalu lintas hanya terlihat ujungnya. ”(Volume) air yang mengalir di kota ini setiap hari pada saat ini setara dengan dua kali volume air di Pelabuhan Sydney,” ucap Wali Kota Rockhampton Brad Carter.

Hujan deras diprediksi masih akan turun pada Kamis (6/1/2011) ini, menambah kekhawatiran dan penderitaan sekitar 200.000 warga yang sudah terkena dampak buruk banjir. Di sektor pertambangan, dua perusahaan sudah mulai beroperasi lagi, tetapi diperkirakan butuh waktu berbulan-bulan sampai semua tambang bisa pulih 100 persen.

Dewan Sumber Daya Queensland memperkirakan kerugian akibat terganggunya sektor pertambangan sudah mencapai 1 miliar dollar Australia (Rp 8,9 triliun) dan terus bertambah sekitar 100 juta dollar Australia per hari. (AFP/Reuters/AP/DHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau