Survei lsi

Kastorius: Polri Masih Dipercaya

Kompas.com - 06/01/2011, 17:07 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Menanggapi hasil survei LSI, penasihat Kepolisian RI, Kastorius Sinaga, mengaku heran dengan raihan baik yang dicapai polisi karena hanya berada satu tingkat di bawah KPK.

"Padahal seluruh kasus, mulai dari rekening gendut, cicak-buaya, semuanya ada tanggung jawab polisi di sana. Tapi persepsinya masih relatif dipercaya masyarakat di dalam menangani kasus korupsi," kata Kastorius saat konferensi pers di kantor LSI, Kamis (6/1/2011).

Dikatakan Kastorius, selama 2009-2010 sebenarnya polisi dalam radar pemberitaan negatif. "Tapi secara faktual apakah berpengaruh pada masyarakat, tampaknya tidak," ucap Kastorius.

Ia melanjutkan, temuan LSI yang seperti ini mengindikasikan masyarakat masih memberikan harapan kepada polisi," ungkap Kastorius.

Seperti diberitakan, hasil survei LSI mengenai persepsi masyarakat terhadap kinerja lembaga penegak hukum, KPK menduduki peringkat paling atas, diikuti Polri, kejaksaan, dan pengadilan.

Terkait dengan raihan buruk yang dicapai pengadilan, ia melihat kondisi pengadilan umum di Indonesia saat ini sedang berada di ambang kritis karena hanya memperoleh 47 persen kepuasan publik.

"Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi pengadilan tipikor yang menurut saya sangat memuaskan. Seluruh koruptor pasti dihukum berat. Makanya, banyak koruptor yang justru minta diadili di pengadilan umum karena masih bisa diakal-akali," ujarnya.

Oleh karena itu, lanjut Kastorius, Komisi Yudisial harusnya diperkuat dan Mahkamah Agung harus diintensifkan. "Jaksa-jaksa nakal juga harus ditindak agar lembaga penegak hukum bisa lebih bersih," pungkasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau