Banjir kota medan

Bangun Bendungan di Hulu Sungai Deli

Kompas.com - 06/01/2011, 20:19 WIB

MEDAN, KOMPAS.com — Proyek Kanal Banjir Medan atau Medan Flood Way ternyata tak memberi jaminan aman bagi masyarakat Medan dari ancaman banjir akibat luapan Sungai Deli. Meski proyek Kanal Banjir Medan telah selesai sejak tahun lalu, ternyata pada Rabu (5/1/2011) malam hingga Kamis sore sejumlah besar wilayah di Medan tergenang banjir.

Memang, banjir terjadi tak hanya akibat luapan Sungai Deli, tetapi beberapa sungai lain yang melintasi Medan, seperti Sungai Belawan dan Sungai Babura. Namun, luapan Sungai Deli yang biasanya merendam banyak wilayah di Medan karena aliran airnya melintasi sedikitnya delapan kecamatan di Medan. Salah satu wilayah kecamatan yang biasa terkena banjir akibat luapan Sungai Deli adalah Kecamatan Medan Maimun.

Kanal Banjir Medan dibangun salah satunya agar luapan banjir Sungai Deli bisa dikendalikan. Hanya saja, Kanal Banjir Medan tak mampu menampung debit air Sungai Deli saat terjadi luapan sejak Rabu malam lalu.

Kanal Banjir Medan pada prinsipnya mengalirkan sebagian luapan air dari Sungai Deli ke Sungai Percut. Menurut Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu Pengelolaan Sumber Daya Air Balai Wilayah Sungai Sumatera II Pardomuan Gultom, maksimal debit air Sungai Deli yang bisa dialirkan ke Sungai Percut hanya 100 meter kubik per detik meskipun kapasitas Kanal Banjir Medan mengalirkan luapan Sungai Deli ke Sungai Percut mencapai 150 meter kubik per detik.

Menurut Pardomuan, jika luapan Sungai Deli yang dialirkan ke Sungai Percut dipaksakan hingga 150 meter kubik per detik, yang akan kebanjiran tak hanya warga di sepanjang Sungai Deli. "Tetapi, mereka yang tinggal di dekat Sungai Percut juga akan kebanjiran karena pada saat yang sama mungkin debit air Sungai Percut juga sedang naik," kata Pardomuan.

Kamis dini hari sekitar pukul 02.00 saat debit air mencapai puncaknya, menurut Pardomuan, debit air Sungai Deli yang terpantau pihaknya mencapai 320 meter kubik per detik. "Yang bisa kami alirkan ke Sungai Percut lewat Medan Flood Way hanya 100 meter kubik per detik," katanya.

Karena keterbatasan kemampuan Kanal Banjir Medan menampung luapan Sungai Deli ini, menurut Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatera II Yani Sulastri Siregar, harus dibangun bendungan di hulu Sungai Deli. Saat ini, menurut Yani, sebenarnya pemerintah pusat tengah menunggu proses pembebasan lahan dari pemerintah daerah untuk membangun bendungan di hulu Sungai Deli di Lau Simeme. "Bendungan ini untuk siklus banjir 25 tahun-an," kata Yani.

Lantas, bagaimana jika Sungai Percut pun pada akhirnya tak mampu menampung aliran luapan Sungai Deli yang dialirkan lewat Kanal Banjir Medan? Harus dibangun juga bendungan di hulu Sungai Percut. "Ini memang sudah ada rencana kami karena bendungan di hulu Sungai Percut juga untuk mengantisipasi siklus banjir 100 tahun-an," kata Yani.

Dua proyek bendungan ini jelas belum akan selesai dalam waktu dekat. Wakil Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho mengatakan, Pemprov Sumut memang sudah menyediakan dana sebesar Rp 550 juta dalam APBD 2011 untuk pembebasan lahan bagi proyek bendungan Lau Simeme. "Namun, belum pasti juga selesai dibangun satu tahun ini," kata Gatot.

Jadi, warga Medan yang biasa terkena banjir, bersabarlah menunggu wilayah Anda terbebas dari banjir.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau