Taseer, Selasa lalu, ditembak mati oleh pengawalnya sendiri, Maliq Mumtaz Hussein Qadri (26), dari kesatuan Polisi Komando Pakistan. Qadri diyakini tidak bekerja sendirian. Pembunuhan itu diyakini sangat terencana.
Sejumlah pejabat pemerintah di Pakistan mempertanyakan bagaimana mungkin pembunuhan seperti itu bisa terjadi. Faisal Raza Abdi, penasihat politik Presiden Pakistan Asif Ali Zardari, mengaku mendapat informasi dari Kepolisian Punjab terkait sosok Qadri.
Informasi itu menyebutkan, sejak 18 bulan lalu kesatuan tempat Qadri bertugas telah mendeteksinya sebagai orang yang sangat ”berisiko”. Peringatan soal itu juga telah dikeluarkan agar Qadri tidak ditugaskan mengawal atau bahkan dijauhkan dari tokoh-tokoh penting. Menurut Abdi, fakta bahwa Qadri tetap ditugaskan mengawal Taseer, yang berujung pada tindakan pembunuhan, mengindikasikan insiden itu terencana dengan sangat baik dan bukan sebuah aksi tunggal.
Dikabarkan, setelah memberondong Taseer, Qadri menjatuhkan senjatanya lalu mengangkat tangan tanda menyerah. Menurut salah seorang petugas kepolisian Punjab, Qadri juga memohon agar ditangkap hidup-hidup. Saat kejadian, sejumlah pengawal lain di lokasi dilaporkan juga tidak bertindak cepat mencegah atau meringkus Qadri untuk menyelamatkan Taseer.
Gugatan juga disuarakan rekan sesama politisi partai politik asal Taseer, Partai Rakyat Pakistan (PPP), Imtiaz Safdar Warraich. Menurut dia, semua pihak yang terlibat dalam pembunuhan itu harus segera diungkap.
Sementara Menteri Hukum Pakistan Babar Awan mengkritik keras bagaimana bisa pengamanan seorang tokoh penting seperti Taseer dipercayakan kepada seorang radikal pembunuh.
Menteri Dalam Negeri Pakistan Rehman Malik melansir kemungkinan adanya konspirasi lebih besar seputar kejadian itu, yang ingin merusak stabilitas Pakistan, terutama lantaran selama ini ikut berperan memerangi kelompok teroris Al Qaeda. Jika para konspirator itu sampai berhasil, Pakistan, menurut dia, bisa meledak bagaikan bom. Tidak ada seorang pun yang akan siap menghadapi konsekuensi jika hal seperti itu terjadi.
Sementara itu, insiden pembunuhan Taseer disikapi beragam oleh masyarakat Pakistan. Kondisi itu semakin menguatkan indikasi negeri itu terpecah antara mereka yang mendukung dan anti terhadap radikalisme.
Mereka yang mendukung Qadri mengelu-elukan pembunuh Taseer tersebut. Mereka bahkan mengancam siapa yang berduka atas kematian Taseer sebagai pihak yang mendukung penistaan terhadap agama, yang berarti layak juga untuk dibunuh.
Kerumunan masyarakat, yang terdiri dari sedikitnya 300 orang pengacara dan murid madrasah, menyambut dan mengelu-elukan Qadri, yang sebelumnya dijadwalkan hadir dalam persidangan di pengadilan antiteror di Rawalpindi. Sidang dibatalkan dan dipindahkan ke Islamabad dengan alasan keamanan.
Di Islamabad, para pendukung Qadri, yang kebanyakan juga para pengacara, menaburkan daun bunga mawar sebagai bentuk dukungan saat Qadri masuk ke ruang pengadilan. Para pendukung lain ada yang memeluk dan menciumi Qadri seolah pahlawan mereka. Qadri yang kerap tersenyum meneriakkan takbir yang langsung disambut para pendukungnya itu.
”Salman Taseer telah melakukan kejahatan sangat fatal dengan menyebut Undang-Undang Penghinaan Agama sebagai ’aturan hitam’,” ujar seorang petani di Karachi, Ghulam Murtaza (30).
Seorang profesional di bidang komunikasi, Fahat Firdous, di Karachi mengecam pembunuhan Taseer, yang sepanjang hidupnya dikenal sebagai seorang tokoh pemberani, yang membela kelompok minoritas di Pakistan.
Pada kesempatan terpisah, kolumnis dan penyiar radio, Fasi Zaka (35), berpendapat, cara berpikir ekstrem telah menjadi arus utama di masyarakat Pakistan saat ini. Dengan begitu, pemerintah harus bertanya ulang kepada masyarakat soal apa sebenarnya yang dipahami sebagai ekstremisme.