Pssi vs lpi

SBY Tak Akan Buka LPI

Kompas.com - 07/01/2011, 13:25 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Menkopolhukham Djoko Suyanto menegaskan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak pernah mengurusi masalah Liga Primer Indonesia (LPI). Djoko juga menegaskan, tak ada rencana Presiden untuk membuka liga yang membuat PSSI berang tersebut.

"SBY tak pernah ikut-ikut ngurusi LPI. For sure. Itu (rencana membuka) kan datang dari kalangan mereka sendiri. Tak ada rencana SBY datangi LPI, apalagi ngurusin PSSI," ungkapnya di kantor Menkopolhukham, Jumat (7/1/2011).

Pernyataan ini dilontarkan Djoko menanggapi kritik keras pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Ikrar Nusa Bakti. Ikrar mengecam kabar rencana Presiden membuka LPI. Menurutnya, jika rencana itu dilaksanakan akan membunuh nama baik Presiden.

"Menurut saya, terlalu besar untuk beliau membuka LPI yang menjadi bagian dari konflik persepakbolaan Indonesia. Kalau kita mau membunuh tikus, masa lumbungnya dibakar habis. Masa gara-gara Nurdin Halid dan orang-orangnya yang enggak becus, PSSI mau dijatuhkan. Ya tinggal ganti saja, susah amat," tegasnya dalam forum evaluasi kinerja Menkopolhukham.

"Memalukan Presiden RI ikut cawe-cawe dalam persoalan persepakbolaan kita. Ini untuk nama baik beliau sendiri," tambahnya lagi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau