Dua Bunga Bangkai Tumbuh di Kuburan

Kompas.com - 07/01/2011, 13:55 WIB

BADUNG, KOMPAS.com - Warga banjar Undagi, Desa Mambal, Badung dikejutkan dengan tumbuhnya dua bunga bangkai di sebuah kuburan yang terletak di pinggir desa tersebut. Bunga bangkai ini pertama kali ditemukan oleh warga saat akan melakukan upacara ngaben atau kremasi pada Rabu (5/1/2011) lalu.

Sebelumnya warga tidak pernah curiga bahwa di tempat tersebut ditumbuhi bunga bangkai atau yang dikenal dengan nama raflesia arnoldi ini. Pasalnya, warga tidak pernah mencium bau busuk. Kuburan atau setra dalem pitu desa adat Mambal ini juga jarang dikunjungi warga. “Sebenarnya ada tukang yang buat tembok di sana. Tapi warga di sini baru tahu Rabu kemarin,” kata Sudiana, salah seorang warga desa Mambal.

Dua pohon bunga bangkai ini ditemukan dengan kondisi yang berbeda. Satu pohon bunga bangkai setinggi 25 sentimeter sudah dalam keadaan layu, sementara yang satu lagi setinggi 50 sentimeter masih dalam keadaan tumbuh. “Tidak ada baunya sama sekali. Saya juga baru pertama kali lihat langsung bunga seperti itu,” imbuh Sudiana.

Bahkan, Jumat (7/1/2011) pagi tadi, warga kembali melihat satu tunas lagi yang tumbuh di dekat kedua pohon tersebut. Sejauh ini warga hanya memasang pagar dari bambu di sekitar tumbuhnya bunga tersebut dan tidak berani menebang atau membuangnya karena takut terjadi suatu hal yang tidak diinginkan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau