Andai Saya Gayus Tambunan

Kompas.com - 08/01/2011, 14:50 WIB

Oleh Adam Rizal

KOMPAS.com — Hukum di negeri ini tak henti menghasilkan dagelan dan berujung pada akhir yang menggantung, sementara orang-orang terpenjara seperti Gayus Tambunan malah bebas pelesiran justru saat dia menyandang status tahanan.

Gayus hanya seorang pegawai negeri golongan III, bayangkan jika itu terjadi pada orang-orang yang kelasnya lebih tinggi dari Gayus.

Enakkah menjadi Gayus? Kepada ANTARA News, orang-orang biasa yang menjadi mayoritas negeri ini beranda-andai jika mereka menjadi Gayus.

Mereka sinis, muak, dan nyaris hilang percaya pada institusi hukum. Tetapi, mereka umumnya akan mematuhi hukum yang di negeri ini berubah bak tempat nego orang-orang berkuasa dan mereka yang justru diamanatkan negara untuk menegakkannya.

Berikut kata mereka, andai mereka Gayus Tambunan.

--Salim (36), loper koran Stasiun Kota

"Uangnya saya pakai buat modal dan beli tanah. Saya juga akan operasi plastik biar lebih ganteng dan menjadi lebih sulit dikenali, tidak pakai wig seperti waktu ke Bali."

Kesalahan Anda sepertinya banyak, bagaimana Anda harus mengatasinya?

"Setelah apa yang saya pelajari dari koran, semuanya akan selesai dengan uang. Saya yakin semuanya akan berletuk lutut kepada uang saya yang banyak ini."

Anda sekarang santer diberitakan pergi ke mana-mana selagi ditahan di bui, enggak risih tuh?

"Ah saya cuekin saja, entar juga beritanya hilang sendiri."

--Soenardjo (46), penjual es dawet, asal Brebes, Jawa Tengah

"Saya akan akui saja itu perbuatan saya semua. Ditutup-tutupin kaya gimana juga bangkai mah pasti akan tercium. Saya juga enggak akan pakai wig, kayak perempuan saja, tampil apa adanya saja, yang gentle."

--Adi Suryo (22), mahasiswa Universitas Indonesia Jurusan Biologi

Anak muda ini menyesalkan cara Gayus yang mengelabuhi publik dengan memakai wig, lantas seharusnya bagaimana?

"Saya (Gayus) kan kaya raya, ya sekalian operasi plastik saja. Saya juga akan jujur mengaku telah ke Singapura, lha yang deket ke Bali saja dibiarkan kok."

--Yuli Prabowo (40), agen buku sekolah di Kalideres

"Uang akan saya kembalikan ke negara, wong itu bukan hak saya kok... saya akan mengakui bersalah."

--Roby Kurniawan (22), mahasiswa Universitas Indonesia, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Robby "kecewa" pada kebodohan Gayus yang tak mengikuti jejak koruptor sebelumnya yang membawa uangnya kabur ke luar negeri.

"Gila gua, kenapa enggak lari saja ke luar negeri kayak Eddy Tansil, malah jadi bulan-bulanan sekarang. Mending kabur ke luar negeri, selesai urusan!"

Tapi ada juga yang sama sekali tak mau mengandaikan dirinya sebagai Gayus.

"Berandai-andai kok harus jadi Gayus, amit-amit deh," kata Suminten (47), perawat di RSUD Kalideres, Jakarta Barat.

"Tak ada gunanya kaya hasil korupsi, tak akan membawa berkah... percuma uang banyak dan enggak habis dimakan tujuh turunan, tapi di akhirat amal dan ibadah tidak diterima Allah. Bertobatlah Gayus," kata ibu empat anak ini. Hukum mati?

Jangan anggap mereka bersetuju dengan tingkah polah Gayus. Mereka justru sudah sangat muak dengan praktik korupsi di negerinya, sama halnya dengan bagaimana hukum dipermainkan, terutama oleh pihak berwenang.

Mereka yakin hukum akan membiarkan orang-orang seperti Gayus apa saja karena uang bermiliar-miliar yang dimilikinya.

"Taruhan Mas kalau yang dari Singapura dibiarin lagi, besok-besok Gayus akan jalan-jalan ke Hawai, berjemur," kata Roby diiringi derai tawa.

Sementara Salim bingung dengan tugas polisi yang seharusnya menegakkan hukum, tapi malah berpihak kepada kejahatan hanya karena uang.

"Saya bingung, Gayus sudah di penjara, tapi masih bisa lolos, polisi kerjanya ngapain ya?" kata Salim.

Lantas, apa tindakan yang pantas kepada Gayus?

"Hukum mati!" kata Roby.

Roby ingin hukum Indonesia mencontoh China yang menghukum mati para koruptor sehingga orang takut melakukan korupsi.

Soenardjo mengamini Roby, "Maling ayam saja hukumannya berat, masak koruptor yang jelas merugikan negara ringan-ringan saja hukumannya."

Namun, Ahmad (23), pegawai Kementerian Perhubungan bagian transportasi udara, berpikir lebih jauh. "Jika Gayus dihukum mati, enak dong teman-teman koruptor lainnya yang terkait Gayus."

Kritis-kritis kan rakyat? Semoga suara, kritik, dan sinisme mereka memacu hukum di negara ini tegak kembali. Bukankah vox populi voi dei, suara rakyat itu suara Tuhan?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau