Tangsel (Tak) Siap Jadi Kota

Kompas.com - 10/01/2011, 03:46 WIB

Jakarta, Kompas - Soal sampah, infrastruktur, hingga perumahan yang tumbuh tak terkendali mengganjal perkembangan Kota Tangerang Selatan. Tanpa perencanaan dan program pembangunan yang tepat, kawasan ini dipastikan tidak akan siap mandiri. Di masa depan, Tangsel dapat makin terpuruk.

Di usianya yang genap tiga tahun pada tahun 2011, Tangsel kini menghadapi 2.000 meter kubik sampah tidak terangkut setiap hari. Sampah sebanyak itu dihasilkan 1,4 juta jiwa yang tinggal di 49 kelurahan dan 5 desa di tujuh kecamatan. Limbah buangan warga itu menumpuk di 25 tempat pembuangan sementara yang sebagian besar di antaranya liar. Sampah di pasar tradisional, seperti Pasar Ciputat, Ciputat Permai, Cimanggis, dan Jombang, juga tidak terangkut.

Infrastruktur, seperti jalan, drainase, serta transportasi, juga bermasalah. Sangat buruknya kondisi drainase yang tidak berfungsi plus kualitas jalan rendah menyebabkan kemacetan. Kemacetan di 12 titik, terutama di persimpangan jalan atau pasar, serta stasiun kereta api listrik di kawasan Serpong, Ciputat, dan Ciputat Timur, semakin parah karena lemahnya pengaturan transportasi di Tangsel.

Penjabat Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Tangsel Dendy Priyandana mengatakan, ada total sekitar 600 kilometer jaringan jalan di Tangsel, termasuk jalan negara, provinsi, perkotaan, dan desa/lingkungan. Sebanyak lima persennya rusak ringan dan sedang. Sementara 20 persen lainnya rusak berat.

Sampah dan kemacetan muncul tidak terlepas dari padatnya penduduk Tangsel. Kota ini lebih dikenal dengan lokasi-lokasi perumahan yang mudah ditemukan di setiap sudutnya.

Kondisi pertumbuhan perumahan yang semakin tidak terkendali itu mengakibatkan lahan di Tangsel terancam habis. Sebanyak 70 persen dari luas wilayahnya dikuasai lebih dari 250 pengembang, baik berskala kecil, sedang, maupun besar.

Sisanya dimanfaatkan sebagai lahan permukiman dan perkantoran yang dikuasai pemerintah dan perseorangan.

Perkembangan perumahan tak bisa terbendung karena selama ini belum ada payung hukum berupa peraturan daerah yang mengatur pembatasan pengembang dan perumahan.

Terserap pilkada

Kesesakan masalah mengimpit Kota Tangsel, makin sesak terasa ketika dinamika politik terganggu dengan adanya praktik haram berbuat curang dalam pemilihan umum kepala daerah (pilkada) yang berujung dengan putusan Mahkamah Konstitusi yang mengharuskan kota ini mengulang pilkadanya.

Dana Rp 26 miliar untuk pilkada I lenyap begitu saja. Untuk pilkada ulang, mengucur lagi dana Rp 12,5 miliar.

”Andai tidak ada kecurangan, pemerintahan resmi mungkin sekarang mulai bekerja. Uang bisa dihemat untuk pembangunan,” kata ahli perkotaan Yayat Supriyatna. 

Batasi fungsi kota

Yayat menambahkan, pekerjaan rumah utama Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tangsel terpilih agar kotanya benar-benar siap menjadi kota adalah mengevaluasi ulang arah pembangunan. Harus dibentuk rencana tata ruang wilayah yang sinergi dengan kawasan sekitarnya, yaitu Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, dan DKI Jakarta.

”Khususnya dalam hal tata infrastruktur, yaitu jalan dan sis- tem transportasi,” kata Yayat.

Dosen Kajian Perkotaan Pascasarjana Universitas Indonesia Hendricus Andy Simarmata menambahkan, wajib dikembangkan sistem transportasi.

”Kalau perlu, jaringan busway diperluas sampai Tangsel, juga kereta api. Langkah itu akan mengurangi beban kendaraan di atas jalan-jalan kota atau jalan menuju Jakarta,” katanya.

Menurut Hendricus, Tangsel sangat bergantung pada Jakarta. Sebagian besar penduduknya, terutama yang tinggal di perumahan, adalah pekerja di Jakarta. Perekonomian Tangsel pun tergantung dari Jakarta. Hal itu terbukti dari data pemerintah setempat yang menyatakan 40 persen APBD mereka berasal dari keberadaan perumahan.

Melengkapi fungsi awalnya sebagai lokasi perumahan, fasilitas rumah sakit dan pendidikan berkembang lumayan pesat di Kota Tangsel.

”Coba batasi fungsi Tangsel sebagai kota jasa kesehatan dan pendidikan. Jangan kemaruk dengan membuat pusat industri atau lainnya. Kalau serakah, nantinya akan berubah seperti Jakarta yang semrawut.

(PIN/NEL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau