Air Mata Wanita Padamkan Gairah Pria

Kompas.com - 10/01/2011, 14:17 WIB

Kompas.com - Menangis memang bisa mendatangkan empati dan kesedihan, tapi bagi pria air mata yang menetes dari mata wanita bisa menimbulkan dampak lain, menurunnya gairah bercinta. Hal ini terjadi karena menurut studi terbaru air mata kaum wanita mengandung zat kimia tertentu.

Meski tidak berbau, namun sebenarnya zat kimia dalam air mata tersebut mengirimkan sinyal tertentu yang bisa membuat kadar testosteron pria berkurang sementara. Akibatnya seorang pria akan kehilangan gairah untuk bercinta. Demikian penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science.

Walau riset ini hanya dilakukan pada sejumlah kecil responden, namun terungkap bahwa air mata memengerahui kadar testosteron pada pria, respon kulit, gambaran otak dan deskripsi pria pada gairah mereka. Peneliti membandingkan efek air mata wanita dengan larutan garam yang diteteskan ke pipi wanita.

"Sinyal kimia termasuk dalam bentuk bahasa. Pada dasarnya kami menemukan bahwa air mata perempuan mengirimkan sinyal kata 'tidak' atau 'tidak sekarang'," papar Dr.Noam Sobel, profesor neurobiologi dari Weizmann Institute, Israel.

Sebenarnya, lanjut Sobel, hal ini tidak hanya berlaku pada air mata perempuan saja, namun dalam riset ini ia memang memfokuskan pada perempuan karena kaum hawa ini memang lebih mudah menangis. "Cukup sulit mencari responden pria yang gampang menangis," katanya.

Air mata yang dimaksud oleh peneliti adalah air mata emosional. "Kandungan kimianya berbeda dengan air mata yang keluar karena mata kelilipan misalnya," katanya.

Pada tikus, air mata yang dikeluarkannya mengandung feromon, molekul tidak berbau yang memicu insting alamiah. Penasaran dengan hal tersebut, Sobel dan timnya melakukan riset untuk mengetahui apakah air mata manusia juga mengandung zat kimia tertentu.

Dalam risetnya ia mengumpulkan air mata dari para partisipan studi yang diminta menonton film sedih. Sebagai perbandingan, para peneliti meneteskan larutan garam pada pipi partisipan lalu mengumpulkannya dalam tabung kecil.

Kemudian para pria diminta mencium kedua jenis air tersebut tanpa mengetahui perbedaannya. Para pria ini lalu diminta menilai foto-foto perempuan. Ternyata, setelah mencium air mata, mereka merasa tidak begitu tertarik dengan wanita yang ada di foto.

Selain menguji lewat foto, para pria itu juga diukur kadar testosteronnya dengan memeriksa air liur mereka. Terakhir adalah melihat aktivitas otak melalui pemindaian otak lewat MRI, setelah mencium air mata dan setelah mencium larutan garam.

Dr.Esen Akpek dari Johns Hopkins University's mengatakan hasil penelitian ini masuk akal karena kelenjar yang mengeluarkan air mata juga mengandung hormon seks. "Hubungannya lebih jelas terlihat ketika mata kering, kondisi yang biasa dialami perempuan di masa pasca menopause," katanya.

Sobel juga menjelaskan bahwa air mata bisa berdampak pada berkurangnya agresi. "Sinyal yang dikirimkan bisa diterjemahkan sebagai 'sekarang bukan waktu yang tepat', " katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau