Pajak dan Aturan BBM Subsidi Jadi Kendala

Kompas.com - 11/01/2011, 03:31 WIB

Jakarta, Kompas - Dua tahun terakhir penjualan otomotif berkembang baik. Tahun ini, penjualan diperkirakan bisa mencapai 800.000 unit. Namun, regulasi perpajakan, pembatasan BBM bersubsidi, dan kenaikan tarif dasar listrik dikhawatirkan berdampak pada penjualan otomotif.

Oleh karena itu, Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor (TAM) Johnny Darmawan dalam ”Toyota Early Media Gathering” di Jakarta, Senin (10/1), mengharapkan kebijakan dan iklim perekonomian tahun 2011 bisa kondusif bagi perkembangan industri otomotif.

”Jika tidak ada kebijakan yang membuat shock, prospek pasar otomotif tahun ini cukup mendukung bagi penjualan mobil,” kata Johnny.

Ia menjelaskan, pada 2010 penjualan Toyota dari pabrikan ke dealer mencapai 280.680 unit. Sementara penjualan ritel 280.711 unit dan ditambah Lexus sekitar 300 unit.

”Penjualan otomotif 2010 luar biasa. Tidak ada yang berpikir mencapai di atas 700.000 unit. Awal 2010 diperkirakan hanya 620.000 unit, kenyataannya penjualan secara wholesale (dari pabrikan ke dealer) diperkirakan 763.000 unit, sedangkan secara ritel (dari dealer ke konsumen) sekitar 740.000 unit,” tutur Johnny.

Cerahnya penjualan otomotif 2010 diakui oleh Direktur Pemasaran dan Pelayanan Purnajual PT Honda Prospect Motor (HPM) Jonfis Fandy.

”Penjualan Honda 2010 sangat baik mengingat peluncuran beberapa produk baru, antara lain Honda CR-V, Odyssey, dan Freed yang sukses,” kata Jonfis.

Total penjualan HPM di Indonesia tahun lalu mencapai 61.337 unit, atau naik 55 persen dibandingkan 2009, yang hanya 39.570 unit.

Kesiapan infrastruktur

Terkait kebijakan pemerintah untuk membatasi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, Johnny menyatakan, ia mendukung. Persoalannya justru pada kesiapan infrastruktur.

”Jika tidak disiapkan, pengemudi angkutan umum pelat kuning, seperti taksi, diam-diam bisa bekerja sambil beralih menjadi pedagang bensin,” ujar Johnny.

Adapun menurut Direktur Pemasaran PT Astra Daihatsu Motor Amelia Tjandra, selain pembatasan konsumsi BBM subsidi, tantangan terberat 2011 adalah juga penerapan pajak progresif dan aturan baru bea balik nama kendaraan bermotor.

”Tahun ini kebijakan pajak membuat pusing. Setiap daerah membuat kebijakan bea balik nama kendaraan sangat berbeda penerapannya. Begitu juga pajak progresif. Ada daerah yang menerapkan dengan besaran persentase berbeda-beda, tetapi ada pula yang tidak menerapkan,” kata Johnny.

Menurut Direktur Pemasaran TAM Joko Trisanyoto, apabila ada yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah, ataupun situasi eksternal dan internal perekonomian, penjualan otomotif 2011 minimal akan kembali pada angka penjualan tahun 2010, yakni 740.000 unit.

(OSA)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau