Johar baru

Penduduk Padat, Masalah Berlipat

Kompas.com - 11/01/2011, 03:53 WIB

Jakarta, Kompas - Kepadatan penduduk di Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat, menimbulkan berbagai masalah, mulai dari permukiman yang padat, tempat peredaran narkoba, hingga gesekan antarwarga yang berbuntut perkelahian.

Berdasarkan sensus penduduk 2010 Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, Johar Baru merupakan kecamatan terpadat di Jakarta. Jumlah penduduk di situ tercatat 116.359 jiwa, dengan kepadatan penduduk 48.952 jiwa per kilometer persegi.

Camat Johar Baru Marsigit, Senin (10/1), mengakui, kepadatan penduduk di Johar Baru memiliki masalah beragam. Permukiman, misalnya, memenuhi hampir seluruh wilayah Johar Baru. Sebagian rumah dihuni tidak hanya satu keluarga, tetapi beberapa keluarga.

”Walaupun ada rumah susun di sini, permukiman horizontal tetap mendominasi sampai ke gang,” kata Marsigit.

Permukiman warga menyebar, bahkan hingga ke gang-gang kecil selebar sekitar satu meter. Di dalam gang, rumah warga berderet rapat.

Selain itu, masalah tawuran juga mendera kecamatan ini. Terakhir, baku lempar antarwarga di Kelurahan Tanah Tinggi marak terjadi sepanjang tahun lalu. Berbagai upaya sudah dilakukan untuk mencegah terulangnya perkelahian yang biasanya diawali anak-anak muda.

Marsigit mengatakan, 100 pemuda dari empat kelurahan, yakni Tanah Tinggi, Galur, Johar Baru, serta Kampung Rawa diikutkan kegiatan pendidikan moral mulai Senin hingga Rabu esok. Kegiatan ini diharapkan bisa mengurangi angka perkelahian.

Sebagian pemuda yang menganggur dan putus sekolah juga memperparah keadaan. Kondisi ini memicu berkembangnya peredaran narkoba. Awal Desember polisi menangkap 16 pemakai dan pengedar narkoba disitu.

Pemadam kebakaran

Namun, di sisi lain, warga di RW 01 Kelurahan Galur berinisiatif menyediakan pompa air untuk memadamkan kebakaran.

”Rumah pompa dibangun tahun lalu dan merupakan kerja warga. Pompa ini dioperasikan warga bila terjadi kebakaran,” tutur Ketua RT 12 RW 01 Kelurahan Galur, Ruswandi.

Ruswandi mengatakan, kebakaran mudah menjalar di permukiman padat. Karena itu, perlu langkah cepat agar rumah yang hangus tidak bertambah banyak.

”Kami juga membantu memadamkan api bila terjadi kebakaran di daerah lain. Selama lokasi kebakaran terjangkau selang air, pemadaman bisa segera dilakukan tanpa menunggu mobil pemadam kebakaran. Kalau lokasi kebakaran jauh, pompa ini dipakai untuk mengisi air tangki mobil pemadam kebakaran,” kata Ruswandi yang juga operator mesin pompa air itu. (ART)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau