Menkes: Perkuat Pelayanan Medik di Indonesia Timur

Kompas.com - 11/01/2011, 06:55 WIB

Makassar, KOMPAS — Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih menilai sarana kesehatan di kawasan Indonesia bagian timur perlu diperkuat untuk membenahi kesenjangan pelayanan. Minimnya fasilitas dan tenaga medis akan diatasi dengan sinergi rumah sakit milik pemerintah dan swasta.

Hal itu dikatakan Endang dalam acara peletakan batu pertama Rumah Sakit Siloam di Tanjung Bunga, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (7/1/2011). Maraknya pembangunan rumah sakit oleh pihak swasta diharapkan turut memperbaiki pelayanan kesehatan di Indonesia timur.

Endang berharap RS Siloam yang bertaraf internasional bermitra dengan Pemerintah Provinsi Sulsel sebagai pengelola Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sayang Rakyat yang khusus melayani warga tidak mampu. Bentuk kemitraan ini layaknya program sister hospital yang dilakukan beberapa rumah sakit di Yogyakarta dan Nusa Tenggara Timur.

”Semakin banyak pola kemitraan rumah sakit swasta dengan pemerintah akan mempercepat perbaikan layanan kesehatan di Indonesia timur,” tuturnya. Kerja sama berupa bantuan fasilitas dan tenaga medis untuk memenuhi kebutuhan dokter spesialis.

Saat ini RS Sayang Rakyat baru memiliki 250 tempat tidur. Sejak beroperasi Maret 2010, kebutuhan dokter spesialis masih didatangkan dari RSU dr Wahidin Sudirohusodo dan RSUD Labuang Baji Makassar. Dinas Kesehatan Sulsel mencatat, meski ada 35 RS swasta dan 27 RSUD, Sulsel masih perlu sekitar 4.000 tempat tidur untuk melayani 8 juta jiwa di 24 kabupaten/kota.

Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, Asiah Hamzah, berpendapat, program sinergitas RS swasta dan pemerintah belum cukup mengatasi kesenjangan pelayanan kesehatan di Indonesia timur. Pemerintah sebaiknya juga memperbanyak unit pelayanan kesehatan bergerak mengingat kawasan Indonesia timur umumnya di wilayah kepulauan.

Ketika meneliti di Pulau Buru Selatan, Maluku, Asiah menemukan fakta, 9 pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) yang ada di daerah berpenduduk sekitar 12.000 jiwa itu hanya ada satu tenaga medis. Kondisi serupa terjadi di Pulau Kahu-Kahu dan Pulau Lowa, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulsel.

Bahkan, sekitar 200 warga di Pulau Badi, Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Sulsel, yang terserang demam tak dapat langsung ditangani karena dokter di puskesmas hanya datang seminggu sekali. Menurut Asiah, situasi ini dapat ditangani dengan biaya operasional kesehatan Rp 100 juta dari pemerintah untuk setiap puskesmas induk. (RIZ)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau