Separuh wanita menikah di usia dini

5 Juta Anak Balita Rawan Gizi

Kompas.com - 12/01/2011, 07:00 WIB

Jakarta, Kompas - Lonjakan jumlah penduduk yang tidak terkendali menyebabkan persoalan gizi di kalangan anak balita semakin berat. Padahal, saat ini saja 17,9 persen anak balita di Indonesia atau sekitar 5 juta anak rawan masalah gizi.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010, prevalensi kekurangan gizi pada anak balita komposisinya sekitar 13 persen anak mengalami gizi kurang dan 4,9 persen gizi buruk. Jumlah anak balita saat ini sekitar 12 persen (sekitar 28,5 juta jiwa) dari total penduduk, yang berdasarkan Sensus Penduduk 2010 sebanyak 237,6 juta jiwa.

”Jutaan anak balita yang lahir dalam kondisi rawan gizi akan memengaruhi kualitas sumber daya manusia Indonesia,” kata Wakil Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia Bidang Kependudukan, Keluarga Berencana, dan Kesehatan Ibu dan Anak sekaligus Ketua Satgas Perlindungan Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia, Rachmat Sentika, Selasa (11/1).

Padahal, kata Sentika, usia balita merupakan peluang terbesar pembentukan otak. Dampak kekurangan gizi antara lain kurangnya tumbuh kembang otak yang dapat bersifat permanen dan tidak terpulihkan. ”Dapat dibayangkan jutaan anak balita tumbuh dengan kualitas rendah dan kehilangan masa emas. Mereka juga yang kelak harus membangun negara ini,” ujarnya.

Secara persentase, ada penurunan dibandingkan dengan Riskesdas 2007, yakni prevalensi kekurangan gizi pada anak balita 18,4 persen (gizi kurang 13 persen dan gizi buruk 5,4 persen). Namun, penurunan itu tak signifikan, apalagi pertumbuhan penduduk lebih tinggi dari harapan.

Kondisi gizi buruk terparah antara lain di Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Nusa Tenggara Barat. Demikian juga dengan angka kematian bayi tertinggi di Nusa Tenggara Barat (72 per 1.000 kelahiran hidup), Sulawesi Tengah (60), Maluku (59), dan Nusa Tenggara Timur (57). Di lokasi-lokasi itu pula angka total kelahiran terbilang tinggi.

Rachmat Sentika mengatakan, tingginya jumlah kelahiran bayi tersebut berkonsekuensi pada layanan imunisasi, pemberian vitamin tambahan, dan pembagian buku Kesehatan Ibu dan Anak yang ternyata rendah.

Direktur Bina Kesehatan Ibu Kementerian Kesehatan Ina Hernawati mengatakan, berdasarkan Riskesdas 2010, permasalahan kesehatan perempuan berawal dari masih tingginya usia perkawinan pertama di bawah usia 20 tahun, yakni 4,8 persen pada usia 10-14 tahun dan 41,9 persen pada usia 15-19 tahun. (INE)   

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau