Lebanon

Obama Akan Temui Saad Hariri

Kompas.com - 12/01/2011, 07:51 WIB
WASHINGTON, KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat Barack Obama akan bertemu dengan Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri pada Rabu (12/1/2011) untuk membahas antara lain tuduhan pengadilan dukungan PBB mengenai pembunuhan ayahnya, mantan perdana menteri Rafiq Hariri.     Perundingan akan berlangsung di tengah kekhawatiran AS terhadap krisis politik yang dipicu oleh dakwaan PBB tersebut, dan tekanan yang dirasakan oleh kelompok garis keras Hizbullah pada pengingkaran atas temuan kasus  Hariri itu.     "Besok, Presiden Obama akan bertemu dengan Perdana Menteri Saad Hariri dari Lebanon untuk membahas dukungan AS terhadap kedaulatan, kemerdekaan kedaulatan dan stabilitas Lebanon," kata juru bicara Gedung Putih Robert Gibbs dalam sebuah pernyataan.     Pembicaraan juga akan fokus pada "pekerjaan yang sedang berlangsung dari Pengadilan Khusus untuk Lebanon (STL), dan isu-isu regional lainnya, "katanya.     "Lebanon adalah mitra penting dalam upaya AS untuk mempromosikan perdamaian, stabilitas, dan keadilan di Timur Tengah," imbuhnya.     Pada Senin, Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton menyatakan keprihatinannya atas upaya untuk "mengacaukan" Lebanon berkaitan dengan penyelidikan pembunuhan tahun 2005 terhadap Rafiq Hariri itu.     "Saya sangat khawatir mengenai usaha untuk mengguncang Lebanon," kata Hillary Clinton di Abu Dhabi ketika ditanya oleh pewawancara televisi tentang krisis politik di Lebanon dan kekhawatiran terjadinya perang.     "Kita harus melakukan segala yang kita bisa untuk memastikan bahwa peringatan mereka tidak akurat," kata Hillary, ketika diminta komentarnya mengenai peringatan dari suatu daerah konflik.     "Ini sangat penting kita melihat bagaimana bencana perang akan berdampak pada semua orang dan masih adanya fakta tidak ada solusi untuk masalah-masalah yang menimpa daerah yang dilanda perang," kata Hillary.     Selama berbulan-bulan, Lebanon telah mengalami kebuntuan politik berkaitan dengan laporan-laporan pengadilan yang didukung PBB mengatur untuk mendakwa anggota Hizbullah sehubungan dengan pembunuhan Hariri.     Hizbullah, yang didukung oleh Suriah dan Iran, telah memperingatkan tidak akan menerima hasil seperti itu dan menuduh peradilan yang bermarkas di Den Haag  menjadi bagian dari rencana komplotan AS-Israel.     Ny. Clinton bertemu secara terpisah pada Jumat di New York dengan Saad Hariri dan  Raja Abdullah dari Arab Saudi untuk membahas ketegangan di Lebanon itu.     Hariri juga mengadakan pembicaraan dalam beberapa hari terakhir  di New York dengan Raja Abdullah, Presiden Perancis Nicolas Sarkozy dan Sekjen PBB Ban Ki-moon mengenai krisis tersebut.    
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau