JAKARTA, KOMPAS.com — Biasanya, para pengguna jalan kerap dibikin pusing dengan ulah sopir angkutan kota alias angkot yang ngetem sembarangan. Kini ketika kemacetan parah terjadi di jalur Kemanggisan-Palmerah-Slipi, sopir angkot ikut pusing. Mengapa?
Seorang sopir angkot 09 jurusan Kebayoran Lama-Tanah Abang, Muri, mengatakan, akibat macet parah yang terjadi selama sepekan terakhir, pemasukannya berkurang drastis. Kepalanya dibuat pusing tujuh keliling karena harus nombok setoran ke juragan.
"Biasanya lumayan. Sejak macet gara-gara busway (transjakarta koridor IX), pendapatan sedikit, waktu lebih banyak. Pusing saya. Semuanya pusing juga kayaknya," kata Muri, Rabu (12/1/2011).
Biasanya, kalau dapat sif pagi, dari pukul 05.00 hingga pukul 11.00, Muri bisa narik hingga empat putaran, Kebayoran Lama-Tanah Abang. "Sekarang jadinya paling dua rit. Ah, bikin streslah ini busway," ujar Bapak tiga anak ini.
Waktu tempuh Kebayoran Lama-Tanah Abang dan Tanah Abang-Kebayoran Lama hanya 1,5 jam dalam keadaan normal tanpa ngetem, tetapi kini paling tidak tiga jam.
"Dua kali lipat lamanya. Saya enggak tahu juga ini. Apa mau demo busway atau enggak," kata Muri.
Pendapatan narik setengah hari biasanya sekitar Rp 50.000-Rp 70.000. Sekarang, mengantongi Rp 20.000 saja dia sudah bersyukur. Itu pun sudah Muri siasati dengan jarang ngetem atau berhenti menunggu penumpang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang