Jakarta, Kompas -
”Sebenarnya mungkin tak perlu dilihat ringkasan kinerja keuangan Garuda untuk membeli saham ini. Mengapa? Sebab keunggulan maskapai ini di Indonesia sangat baik. Tak ada substitusi yang memadai seperti kereta api atau kapal laut,” ungkap Direktur Keuangan Garuda Elisa Lumbantoruan, Rabu (12/1), dalam paparan publik penawaran saham perdana (IPO) Garuda.
Lumbantoruan menegaskan, Indonesia tak seperti India, Thailand, ataupun negara lain. ”Di India ada kereta api atau Thai Air dapat disubstitusi angkutan lain, tetapi sulit di Indonesia,” ujarnya. Sebagai pembanding, penerbangan Jakarta-Medan adalah dua jam, sedangkan kapal butuh 2,5 hari. Penerbangan Jakarta- Jayapura butuh 6 jam dan 40 menit. Kapal perlu tujuh hari.
Meski sekadar untuk dicatat, pendapatan pada sembilan bulan pertama 2010 sebesar 1,421 juta dollar AS, naik 7,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2009 sebesar 1,328 juta dollar AS. Adapun laba bersih Garuda pada sembilan bulan pertama 2010 sebesar 22 juta dollar AS, turun dari laba bersih sebesar 64 juta dollar AS pada sembilan bulan pertama 2009.
Jajaran direksi bersama penjamin emisi memaparkan, Garuda akan melepas 9,3 miliar lembar saham (36,48 persen) terdiri dari 7,4 miliar saham baru (28,93 persen) dan 1,9 miliar lembar saham divestasi PT Bank Mandiri Tbk. Finalisasi harga dicanangkan pada 25 Januari 2011, sedangkan pencatatan di bursa efek pada 11 Februari 2011.
Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar pun menegaskan, meski Garuda mempunyai 435.000 anggota frequent flyer, kesempatan sama diberlakukan kepada siapa saja supaya berkesempatan membeli saham Garuda.
Emirsyah menjelaskan, Garuda memiliki serangkaian rencana ekspansi untuk tetap memimpin di industri penerbangan, terutama pada segmen kelas premium. ”Tahun 2010 telah didatangkan 24 pesawat baru sehingga rute yang dilayani dapat makin banyak,” katanya.
Hingga kuartal III-2010, Garuda mengoperasikan 84 pesawat dan diperkirakan menjadi 150 pesawat tahun 2015. Untuk efisiensi biaya operasi, Garuda hanya mengoperasikan tiga tipe pesawat, yakni Boeing 777-300ER (jarak jauh), Airbus A330- 200/300 (jarak menengah), dan Boeing 737-800 NG (jarak dekat).
Dari 44 juta penumpang domestik tahun 2009, Garuda meraup 19,2 persennya, kalah dari penetrasi Lion Air sebesar 33,4 persen meski Garuda mendominasi kargo dengan meraup 46 persen dari pangsa pasar.
”Selain fokus di Garuda dengan kelas premium, kami juga akan mengembangkan Citilink sebagai maskapai berbiaya rendah. Dari enam unit saat ini, kami akan tambah menjadi 25 unit pesawat. Masih kami pikirkan jenis pesawat yang terbaik,” kata Emirsyah.
Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa di Jakarta menegaskan, jatah bagi publik untuk memiliki saham perdana Garuda sebaiknya mendominasi dibandingkan kepemilikan oleh lembaga keuangan. Langkah ini yang akan mendorong semakin kuatnya pengawasan terhadap kinerja Garuda.
Sementara itu, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Mustafa Abubakar mengatakan, komposisi pelepasan saham perdana Garuda nanti diharapkan akan dimiliki investor domestik sebanyak 70-80 persen dan sisanya dilepas kepada investor asing. Mustafa tak menekankan pelepasan saham kepada investor individu atau ritel sebab ada kemungkinan jumlah individu yang memiliki kemampuan untuk menutup jatah tidak mencukupi.