Jakarta macet

Lalu Lintas Terkunci di Casablanca

Kompas.com - 13/01/2011, 10:06 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kemacetan parah terjadi di sepanjang Jalan Prof Satrio, Casablanca, hingga menjelang Jalan KH Abdullah Syafi'i, Rabu (12/1/2011). Proyek jalan layang yang dalam tahap pembuatan fondasi itu memangkas sepertiga jalan. Traffic Management Center Polda Metro Jaya melaporkan kemacetan terjadi dari pukul 07.00 hingga malam.

Rabu sore, saat para pekerja di Jakarta berarak pulang ke arah Pondok Bambu, Kampung Melayu, Buaran, Jakarta Timur, dan kawasan pinggiran lainnya, kemacetan lagi-lagi mencapai puncaknya. Antrean kendaraan diperkirakan mencapai lebih dari lima kilometer, sama seperti yang terjadi pada Rabu pagi.

Seorang pengendara mobil, Riris, sore itu sekitar pukul 16.00, berniat pulang ke rumah dari kantornya di kawasan Tanah Abang menuju Kampung Melayu. Perjalanannya mulai tersendat di mulut Jalan Prof Satrio setelah turun dari jembatan layang Sudirman.

Setelah menghabiskan waktu sekitar satu jam dalam kemacetan, di depan Mal Ambasador Riris menyempatkan membuka jendela mobil dan bertanya kepada petugas keamanan mal.

Bukan jawaban soal penyebab kemacetan yang didapat. Riris justru disarankan oleh satpam mal agar mulai besok tidak melalui jalan itu lagi.

Riris diminta mengambil jalan alternatif supaya tidak terjebak kemacetan lagi. Jalan alternatif yang dimaksud adalah Jalan Sudirman masuk ke Menteng, Rasuna Said, dan Manggarai, kemudian menuju Pondok Bambu dan Kampung Melayu.

”Saya putuskan parkir saja dulu di mal ini. Makan dulu. Nanti kalau sudah agak reda macetnya, jalan lagi,” kata Riris.

Hingga tahun depan

Proyek jalan layang bukan tol di Casablanca diproyeksikan berlangsung selama tahun 2011. Selama delapan sampai sembilan bulan ke depan, sesuai data Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta, sekitar sepertiga bagian jalur di kawasan ini tidak bisa digunakan.

”Kami menyiapkan dua skenario rekayasa lalu lintas agar selama pembangunan tingkat kemacetan tidak semakin parah,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta Ery Basworo.

Proyek jalan layang, menurut Ery, juga bukan penyebab utama kemacetan. Jalan layang, lanjutnya, justru salah satu upaya agar kemacetan di kawasan itu bisa teratasi. Penyebab kemacetan di Casablanca, antara lain, volume kendaraan, banyak persimpangan, dan ramainya penyeberangan menuju Mal Ambasador.

Koordinator Traffic Management Center (TMC) Polda Metro Jaya Komisaris Indra Jafar mengatakan, selama masa pembangunan, pihaknya mengerahkan petugas yang dibantu petugas dinas perhubungan dan petugas keamanan masing-masing gedung di kawasan yang dilalui proyek untuk mengatur lalu lintas.

Namun, agar warga tidak terjebak kemacetan, Indra meminta warga melalui Menteng, Rasuna Said, dan Manggarai untuk menuju Kampung Melayu dan Pondok Bambu. Untuk menghindari efek macet di Casablanca, warga yang bermobilitas dari Kampung Melayu ke Cawang diimbau menggunakan bus transjakarta atau melalui Jalan MT Haryono.

TMC Polda Metro Jaya juga menginformasikan, kemacetan akibat proyek jalan layang juga terjadi kawasan Blok M-Antasari. Kemacetan parah ditemui pula di sepanjang Jalan Gatot Subroto antara Cawang dan Slipi ke arah Grogol di Jalan S Parman.

Di jalur ini, kemacetan terjadi akibat berkurangnya satu jalur yang diperuntukkan sebagai jalur khusus bus transjakarta koridor IX Pinang Ranti-Pluit. (NEL)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau