JAKARTA, KOMPAS.com- Sejumlah pemilik warung makan di Jalan Satrio, Jakarta Selatan, mengeluhkan berkurangnya pelanggan selama awal pengerjaan proyek jalan layang (fly over) non-tol Kampung Melayu-Tanah Abang. Sebab, para calon pembeli sulit memarkirkan kendaraan.
"Ada pengaruh pembangunan fly over ini yang cukup terasa bagi kita yang lagi dagang," kata Ketua Karyawan RM Gumarang, Arifianto, Kamis (13/1/2011). Restoran Padang ini terletak persis di seberang pagar proyek pengeboran untuk tiang pancang jalan layang.
Pagar tersebut menyita satu dari empat lajur jalan arah Kampung Melayu. Di saat tak ada patroli polisi, ada kendaraan roda empat yang parkir di lajur paling kiri. Akibatnya, arus kendaraan tersendat mulai dari tanjakan jembatan layang Sudirman.
Arifianto mengaku, omset penjualannya turun 20 persen, dari Rp 2 juta menjadi Rp 1,6 juta per hari. Itu terjadi sejak pemasangan pagar proyek pada tiga hari yang lalu.
Turunnya jumlah pembeli sudah dirasakan mulai jam makan siang, saat pegawai kantor sedang istirahat. Pelanggan restoran yang berasal dari Tanah Abang dan Sudirman rata-rata mengeluhkan antrean kendaraan yang makin merayap dan sulitnya parkir.
"Tadi saja pas baru buka, ada mobil pelanggan yang disuruh menggeser parkir ke depan yang tidak dekat dengan lokasi pagar proyek," kata Arifianto.
Setelah sopir pribadinya memajukan mobil, lanjut dia, seorang wanita yang memesan 4 bungkus nasi itu menanyakan mobilnya. Arifianto pun menjawab, ada polisi patroli yang menyuruh si sopir memindahkan kendaraan. "Akhirnya sang pelanggan itu harus jalan kaki sejauh kira-kira 50 meter untuk masuk ke mobilnya," tuturnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang