Antibiotik Efektif Atasi Sakit Telinga Akut

Kompas.com - 13/01/2011, 17:26 WIB

KOMPAS.com - Meski pemberian antibiotik pada anak yang sering menderita infeksi telinga masih kontroversial, namun dua studi terbaru menyimpulkan bahwa pemberian antibiotik lebih efektif jika kriteria diagnosanya tepat.

Para peneliti dari Children's Hospital of Pittsburgh dan University of Turku, Finlandia menemukan, antibiotik lebih efektif dibanding obat plasebo untuk mengatasi infeksi telinga akut pada anak-anak.

Pada kedua studi tersebut, anak-anak yang mendapatkan obat amoxicilin-clavulanate (jenis antibiotik) memiliki angka kesakitan lebih rendah dibanding anak yang tidak mendapatkan obat.

Infeksi telinga akut (otitis media), atau lebih dikenal sebagai congek merupakan infeksi bakteri berulang yang sering diderita anak-anak. Penyakit ini bisa menyerang siapa saja, baik anak dari negara maju atau negara berkembang. Infeksi telinga akut ini juga menjadi alasan tingginya antibiotik yang diresepkan pada anak di Amerika.

"Hasil studi menggarisbawahi pentingnya terapi antibiotik pada jenis infeksi tertentu. Karena itu yang paling penting dilakukan para dokter adalah melakukan diagnosa yang akurat terhadap gejala yang ada," kata Dr.Alejandro Hoberman, dokter anak dari Pittsburgh yang melakukan riset ini.

Hoberman dan Dr.Jerome Klein, dokter anak dari Boston University School of Medicine, mengatakan satu dekade terakhir ini terjadi perdebatan mengenai penting tidaknya memberikan antibiotik pada anak yang menderita otitis media atau memakai strategi menunggu.

Perdebatan tersebut, ditambah dengan kekhawatiran akan efek samping resistensi bakteri akibat antibiotik menyebabkan pemberian antibiotik pada anak menjadi kontroversi. Apalagi riset yang dilakukan Eropa tidak secara tegas menyebutkan kriteria untuk diagnosa infeksi telinga karena gejalanya memang mirip dengan penyakit pernapasan atas.

Dalam riset yang dilakukan di Pittsburgh terhadap 291 anak berusia 6-23 bulan yang menderita infeksi telinga, para peneliti membagi anak tersebut kedalam dua kelompok. Satu kelompok mendapat antibiotok dan sisanya menerima obat placebo, masing-masing selama 10 hari.

Pada anak yang mendapat antibiotik, 35 persennya mulai sembuh di hari kedua, 61 persen di hari keempat dan 80 persen sembuh di hari ketujuh.

Sebaliknya, pada anak yang mendapat plasebo, 28 persen mengalami kesembuhan di hari kedua, 54 persen di hari keempat dan 74 persen di hari ketujuh.

Para peneliti dalam laporannya juga menjelaskan bahwa masih diperlukan studi lanjutan untuk menghindari penggunaan antibiotik yang tidak perlu sehingga resistensi obat bisa dihindari.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau