Bencana banjir

Satu Tewas akibat Banjir Singkawang

Kompas.com - 13/01/2011, 18:58 WIB

PONTIANAK, KOMPAS.com — Banjir di Kota Singkawang membawa korban jiwa menyusul ditemukannya jasad Diki Sanjaya, siswa kelas 2 SD, di sebuah sungai dekat rumahnya di Setapuk Besar, Singkawang Utara.

Menurut Mulyono, ayah korban, saat dihubungi di Singkawang, Kamis (13/1/2011), sewaktu pulang dari bertani ia bertanya kepada sang istri, Eliza, mengenai keberadaan anak sulungnya itu.

Eliza mengatakan, Diki sudah meminta izin untuk ikut sang ayah ke ladang. "Saya bingung karena saya tidak membawa siapa-siapa pada waktu itu," kata Mulyono.

Dia mengatakan, kalau siang Diki bersama adiknya belajar mengaji di tempat pendidikan Al Quran.

Namun, sebelum masuk kelas, korban biasanya bermain bersama teman-temannya.

Ia memperkirakan, sebelum masuk, anaknya bermain kelereng bersama teman di halaman masjid depan TPA.

"Jadi, saya tidak menyimpan kekhawatiran terhadap keberadaan Diki sedikit pun kalau sampai terjadi apa-apa," katanya.

Namun, hingga menjelang maghrib, Diki tak kunjung pulang. Karena Diki belum menampakkan diri di rumah, Mulyono pun memanggil orang-orang untuk mencari Diki bersama polisi dan tim SAR.

Diki ditemukan Rabu malam sekitar pukul 21.00. Ia dikebumikan Kamis pukul 10.00.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau