Korban Banjir di Brasil Jadi 369 Orang

Kompas.com - 14/01/2011, 00:17 WIB

TERESOPOLIS, KOMPAS.com — Regu penyelamat Brasil, Kamis (13/1/2011), berupaya mencapai wilayah yang terputus oleh banjir dan tanah longsor yang telah menewaskan sekurangnya 369 orang. Ini merupakan salah satu bencana alam terburuk di Brasil dalam beberapa dekade terakhir. Jumlah korban tewas di wilayah pegunungan di dekat kota Rio de Janeiro itu diperkirakan akan meningkat lagi saat regu penyelamat dapat mencapai sejumlah wilayah terpencil lain.

Hujan deras pada awal pekan menewaskan 13 orang di negara bagian Sao Paulo dan membuat jumlah kematian di Brasil selatan mencapai sekurangnya 369 orang. Lereng bukit dan tebing di daerah Serrana, utara Rio, longsor setelah 24 jam hujan yang setara dengan sebulan, yang menghancurkan perumahan dan menewaskan sejumlah keluarga saat mereka tidur pada Rabu pagi.

Surat kabar Filha de Sao Paulo menyebut peristiwa itu sebagai bencana alam terburuk yang terjadi di Brasil dalam 40 tahun. Stasiun televisi menayangkan banjir deras dan aliran lumpur yang menghancurkan kota Teresopolis, sekurangnya 152 orang tewas di kota itu. Sementara di kota di dekatnya, Nova Friburgo, dilaporkan korban tewas mencapai 168. "Kota itu sudah tamat," kata warga Nova Friburgo, Carlos Damasio, yang dikutip oleh jejaring koran lokal, O Globo.

Sekurangnya 36 orang juga meninggal di Petropolis, kota pegunungan yang pada abad ke-19 menjadi rumah pelesir musim panas keluarga kerajaan Brasil.

Banyak warga telantar yang terpaksa menyelamatkan diri karena operasi penyelamatan masih terhambat oleh jalan rusak dan medan yang berbahaya.

Menurut perkiraan cuaca, hujan turun lagi dalam beberapa hari ke depan dan hal itu akan menaikkan risiko tanah longsor. "Banyak jalan yang tidak bisa dilewati," kata juru bicara pemerintah kota Teresopolis, Gilberto Junior. "Kami menerima informasi bahwa ada korban jiwa di sejumlah wilayah terpencil," jelasnya.

Tayangan televisi menunjukkan seorang perempuan memegang anjing di reruntuhan rumahnya, kemudian salah satu tembok rumah terkoyak oleh ganasnya banjir. Ia kemudian memegang seutas tali yang dilempar oleh beberapa warga dari atap rumah sekitar, dan akhirnya dapat keluar dengan selamat meski harus melepas anjingnya supaya dapat menyelamatkan diri.

Bencana alam itu merupakan tantangan pertama Presiden Brasil yang baru, Dilma Roussef, yang dijadwalkan terbang ke wilayah itu pada Kamis waktu setempat. Ia sudah menyiapkan 780 juta reais (Rp 4,14 triliun) dana bencana alam bagi upaya penyelamatan dan rekonstruksi.

Dua helikopter angkatan laut telah membantu operasi penyelamatan dan angkatan laut juga telah mengirim rumah sakit bergerak ke wilayah tersebut.

Tanah longsor dan banjir merupakan bencana lumrah di Brasil. Keseringan bencana itu menunjukkan lemahnya perencanaan kota dan rendahnya tindakan pencegahan oleh pihak berwenang. Lebih dari 60 orang meninggal akibat tanah longsor di resor pesisir pantai Angra dos Reis pada Januari 2010, dan sekitar 180 orang tewas saat tanah longsor terjadi di wilayah miskin Rio pada April tahun lalu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau