Gedung baru dpr

Staf DPR Datang buat Kerja, Bukan Renang

Kompas.com - 14/01/2011, 11:23 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sekjen PDI-P Tjahjo Kumolo menilai, pernyataan Ketua DPR Marzuki Alie soal kebutuhan kolam renang di gedung baru DPR terkesan mengada-ada. Dengan mengatasnamakan kebutuhan karyawan DPR, Marzuki ngotot bahwa kolam renang dibutuhkan oleh para karyawan.

"Kalau ada alasan tersebut, itu hak Ketua DPR, tetapi alasan itu, bagi saya sebagai ketua fraksi, mengada-ada," ungkapnya kepada Kompas.com, Jumat (14/1/2011).

Menurut Tjahjo, karyawan DPR datang ke kantor pasti untuk bekerja dari pagi hingga sore. Rata-rata kemudian kembali ke rumahnya masing-masing. Kalaupun ingin berenang sendiri atau bersama keluarga, Tjahjo mengatakan, para karyawan bisa pergi ke tempat rekreasi atau pusat-pusat olahraga, bukan ke kantornya di DPR.

"Staf DPR kan juga tidak ada kewajiban harus bisa berenang kalau akan rekreasi berenang. Kalau sama keluarga bisa di mana saja, tidak di DPR, kecuali DPR akan dijadikan salah satu tempat atau pusat kegiatan olahraga," ujarnya.

Dia menambahkan, karyawan dan staf DPR tidak membutuhkan kolam renang. Menurut dia, kebutuhan yang lebih mendesak adalah penambahan gaji atau uang lembur daripada kolam renang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau