Pertanian

Sudan Ajak Indonesia

Kompas.com - 14/01/2011, 17:50 WIB
KAIRO, KOMPAS.com - Pemerintah Sudan mengajak Indonesia untuk menggarap lahan-lahan subur pertanian di bibir Sungai Nil. "Pemerintah Sudan memandang Indonesia sebagai salah satu negara yang berpengalaman membangun industri pertanian. Oleh karena itu, negara tersebut siap menyediakan lahan suburnya digarap Indonesia," kata Duta Besar (Dubes) RI untuk SudanSujatmiko, awal pekan ini di Juba, Sudan Selatan.     Dubes Sujatmiko berada di Juba mewakili pemerintah memimpin tim pengamat Indonesia untuk referendum penentuan nasib Sudan Selatan yang akan berakhir Sabtu (15/1/2011).     Diplomat karir itu menjelaskan bahwa ajakan tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Pertanian Sudan, Abdul Halim Ismail Al-Muta’afi, saat keduanya bertemu di ibu kota Sudan, Khartoum, baru-baru ini.  "Menteri Abdul Halim bahkan menyatakan pihaknya menyediakan lahan seluas 30.000 hektar di pesisir Sungai Nil Putih, bagian selatan ibu kota Khartoum," kata Sujatmiko.     Disebutkan, Kementerian Pertanian Sudan siap menjadi mitra lokal untuk kerja sama dengan para investor Indonesia dalam pengembangan tanaman padi, jagung, dan tanaman palawija lainnya.     "Dengan adanya kerja sama pertanian ini nantinya akan memberikan efek samping yang menguntungkan bagi peningkatan ekspor Indonesia ke Sudan, seperti masuknya produk-produk peralatan pertanian, pupuk Indonesia termasuk  juga peluang kerja bagi tenaga kerja kita," kata Dubes Sujatmiko.     Menurut Menteri Abdul Halim, saat ini Kementerian Pertanian Sudan telah berhasil mengadakan kerja sama dengan Vietnam, Pakistan, dan Jepang dalam bidang penanaman padi.       Sudan memiliki lahan pertanian yang sangat luas sekitar 84 juta hektar, namun yang sudah digarap baru sekitar 35 persen. "Luasnya lahan yang tersedia, akan menghasilkan panen dengan skala besar yang juga pada akhirnya mampu memberikan kontribusi ekonomi yang besar bagi Indonesia," ujar Dubes Sujatmiko.
                       Persimpangan jalan     Saat ini Sudan tengah berada di persimpangan jalan terkait referendum penentuan nasib Sudan Selatan yang saat ini sedang berlangsung. Referendum yang dimulai pada 9 Januari dan berakhir pada 15 Junuari itu diperkirakan akan membagi Sudan menjadi dua negara, Sudan Selatan dan Sudan Utara.     Kepala Pelaksana Fungsi Penerangan, Sosial dan Kebudayaan (Pensosbud) KBRI Khartoum, Muhammad Syafri, mengandaikan bahwa bila Sudan Selatan berpisah, Sudan Utara akan kehilangan sebagian besar sumber pemasukan utamanya yaitu minyak bumi yang sebagian besar berada di wilayah Sudan Selatan. "Bila ternyata benar-benar berpisah, Sudan Utara perlu melakukan diversifikasi sumber pemasukan negara dan bidang pertanian akan menjadi prioritasnya," ujar Pensosbud Muhammad Syafri.      Dubes RI menyebutkan bahwa peluang tersebut dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh Pemerintah maupun kalangan swasta Indonesia.     Terkait referendum Sudan Selatan, Dubes Sujatmiko mengemukakan, Pemerintah Indonesia sejak awal telah menyampaikan bahwa apapun hasilnya, Indonesia akan terus menjaga hubungan baik dan akan terus meningkatkan kerja sama baik dengan Sudan Utara maupun dengan Sudan Selatan, jika memisahkan diri.    
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau