Rusuh dobo

Polisi Tidak Menganiaya hingga Tewas

Kompas.com - 15/01/2011, 03:55 WIB

AMBON, KOMPAS.com - Kapolda Maluku Brigjen Pol Syarief Gunawan menegaskan, bentrokan yang terjadi antara warga Dobo, Kepulauan Aru, dan aparat kepolisian, Jumat siang, karena warga terprovokasi isu menyesatkan yang diembuskan pihak tidak bertanggung jawab.

"Bentrokan ini terjadi karena warga terprovokasi isu menyesatkan dan sengaja diembuskan pihak tidak bertanggung jawab, terkait meninggalnya pegawai kantor Camat Aru Selatan Alibaba Raharusun," kata Kapolda saat dimintai keterangan di Ambon, Jumat (14/1/2011).

Kapolda menegaskan, ada upaya pihak-pihak tertentu memprovokasi warga dengan memutarbalikkan fakta dan peristiwa kematian Raharusun yang sebenarnya.

"Perlu saya tegaskan bahwa Alibaba Raharusun meninggal bukan karena dianiaya oknum polisi di Pos Lalu Lintas seperti isu yang beredar, tetapi murni karena kecelakaan tunggal," katanya.

Kapolda mengatakan, korban menderita luka kritis akibat terjatuh dari motornya yang dikendarai dalam kecepatan tinggi saat dikejar seorang anggota polisi lalu lintas Polres Aru.

Korban sebenarnya tertangkap tidak menggunakan helm oleh polisi yang sedang melakukan razia kelengkapan kendaraan di depan Pos Lalu Lintas Tugu Cenderawasih pada Kamis siang pukul 14.00 WIT.

"Saat hendak ditahan, Raharusun kemudian lari dengan sepeda motornya dan dikejar petugas, dia akhirnya terjatuh dari sepeda motor sehingga ditahan dan dibawa ke pos lalu lintas," katanya.

Korban ditahan di Pos Lalu Lintas Tugu Cenderawasih dan baru dibawa ke RSUD Dobo untuk mendapatkan perawatan pada Jumat sekitar pukul 03.00 WIT, tetapi kemudian meninggal pada pukul 08.00 WIT.

"Sekali lagi saya tegaskan, kematian Raharusun bukan karena dianiaya oknum polisi lalu lintas Polres Aru, tetapi murni akibat kecelakaan lalu lintas saat dikejar aparat," kata Kapolda.

Ia meminta masyarakat untuk menahan diri dan tidak terprovokasi serta memercayakan penyelesaian masalah tersebut kepada aparat kepolisian.

Namun, keluarga korban bersama warga menduga kematian Raharusun karena dianiaya oleh oknum anggota polisi lalu lintas Polres Aru hingga sekarat baru kemudian dibawa ke RSUD Dobo untuk dirawat intensif pada Jumat subuh.

Mereka terprovokasi dan melakukan unjuk rasa ke Polres Aru untuk meminta dilakukan visum terhadap jenazah korban.

Warga yang telah emosi kemudian melakukan perusakan dan pembakaran terhadap Pos Lalu Lintas di depan Tugu Cenderawasih serta Pasar Jargaria.

Melihat aksi massa yang beringas, Kapolres AKBP Solichin kemudian memerintahkan anak buahnya untuk turun dan melakukan pengamanan di lokasi kejadian, tetapi kehadiran aparat polisi malah disambut massa dengan lemparan batu.

Melihat situasi yang tidak memungkinkan, aparat Polres Aru kemudian melepaskan tembakan peringatan untuk membubarkan massa.

Kapolda mengimbau masyarakat untuk tenang dan tidak terprovokasi serta memberikan kesempatan bagi aparat untuk menyelidiki kasus tersebut hingga tuntas.

"Percayakan penyelesaian masalah ini kepada aparat kepolisian. Kami akan melakukan penyelidikan dan penyidikan untuk mengungkap kasus ini, termasuk penyebab kematian Alibaba Raharusun. Jika ada oknum polisi yang terlibat, akan ditindak sesuai prosedur hukum yang berlaku," katanya.

Bentrokan itu mengakibatkan empat orang mengalami luka-luka akibat terkena timah panas, yakni Santo Mangar (17), siswa SMA Negeri 1 Dobo; Wajid Kalliem (32) dan Wilman Walten (35); serta seorang anggota Polres Dobo John Maitimu.

Semua korban mengalami luka tembak di kaki sebelah kiri dan dirawat di Puskesmas Dobo, tetapi karena luka yang diderita tergolong serius sehingga dirujuk ke RSUD Dobo untuk mendapatkan perawatan intensif.

Suasana di Kota Dobo hingga Jumat malam dilaporkan masih mencekam, aparat kepolisian melakukan penjagaan ekstra ketat di ruas Jalan Cederawasih, Dobo, sedangkan massa masih bergerombol di sejumlah ruas jalan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau