Skandal

Heboh Kabar Ketua DPRD Main Perempuan

Kompas.com - 15/01/2011, 09:31 WIB

PEKANBARU, KOMPAS.com- Skandal Ketua DPRD Riau Johar Firdaus bermain dengan perempuan bayaran saat berada di Jakarta, menghiasi halaman koran harian lokal Pekanbaru, Sabtu (15/1/2011). Munculnya berita itu justru berasal dari makian Sekretaris DPRD Riau, Akmal JS, yang diucapkan secara terbuka di hadapan pegawai negeri sipil di lingkungan DPRD Riau saat apel pagi Jumat kemarin.

Johar yang dihubungi Kompas.com, Sabtu pagi ini, tidak membantah kejadian heboh pada saat apel Jumat pagi di halaman DPRD Riau. Namun dia membantah tuduhan Akmal tentang bermain perempuan bayaran di Jakarta.

"Dia (Akmal JS) saat itu sedang emosi saja," kata Johar yang sedang dalam perjalanan menuju Kabupaten Bengkalis untuk menghadiri pelantikan Herliyan Saleh (Bupati Kabupaten Bengkalis) sebagai Ketua Partai Amanat Nasional oleh Ketua Umum PAN Hatta Radjasa.

Tudingan Akmal terhadap Johar sebenarnya sangat serius, bahkan sudah dapat dikategorikan pidana. Apalagi saksi yang mendengar perkataan Akmal mencapai puluhan orang.

"Kalau tuduhan Akmal itu tidak benar, mengapa Anda tidak melaporkan dia kepada polisi. Bukankah tuduhan itu menyangkut penghinaan atau paling tidak, dapat dinyatakan sebagai pencemaran nama baik?" tanya Kompas.com.

Menurut Johar, persoalannya dengan Akmal JS sudah selesai, karena yang bersangkutan sudah meminta maaf kemarin sore. "Sudah dulu ya, saya lagi dalam perjalanan ke Bengkalis pagi ini. Nanti sore sepulang dari Bengkalis, Anda akan saya hubungi lagi," kata Johar.

Akmal JS tidak dapat dihubungi karena telepon genggamnya tidak aktif. Namun, pesan singkatnya tentang tudingan atas Johar yang beredar di kalangan wartawan berisi penyataan singkat, "Biasalah ya, semut dipijak pun menggigit apalagi manusia," katanya.

Perseteruan Johar dengan Akmal JS sebenarnya sudah memanas sejak pekan lalu. Memburuknya hubungan itu bermula dari batalnya Rapat Dengar Pendapat Komisi A DPRD Riau dengan Badan Kepegawaian Daerah menyangkut kisruh penerimaan pegawai negeri sipil di Pemerintah Provinsi Riau pekan lalu.

Johar mengatakan, rapat batal karena Akmal tidak memaraf surat persetujuan pertemuan. Sebaliknya Akmal menuding, surat itu sudah siap dijalankan dan hanya menunggu tanda tangan Johar saja.

Pada Kamis lalu, Akmal curhat kepada sejumlah anggota DPRD Riau dari Komisi B. Dalam curhatnya Akmal menyampaikan informasi bahwa Johar memberi catatan buruk kinerja Sekwan kepada Sekretaris Provinsi Wan Syamsir Yus. Johar, secara lisan bahkan meminta Wan mencopot Akmal dari jabatan Sekwan.

Puncak kemarahan Akmal akhirnya terlontar Jumat pagi. Dalam kemarahannya itu Akmal melontarkan kata bahwa Johar kerjanya "main perempuan" di Jakarta.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau